Kala Pagi Dikira Senja

Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK

“Kala pagi dikira senja adalah momen kita hampir saja menyerah, 5 menit menjelang mukjizat”
(Didaktika Hidup Beriman)

  1. Apa itu Pagi dan Apa itu Senja?

Pagi hari adalah sebuah awal yang menyimbolkan spirit, pengharapan, kelahiran baru, dan panggilan hidup baru.

“Lihatlah Aku menjadikan segala sesuatu baru.”
(Wahyu 21: 5)

Sedangkan senja adalah hari petang menjelang malam, yang menyimbolkan ‘kelelahan, perpisahan, kondisi menua, menjelang akhir, dan berakhirnya sesuatu.

Di sini, terdapat tapak-tapak tumit rindu, dan suara letih berpamit pergi: “Cukup Tuhan, aku sudah lelah!”

  1. Mengapa Pagi justru Dikira Senja?

Ada 3 ‘Mata’ yang bisa Dilihat!

a. Mata, karena Luka

Itulah sejumput bayangan kegagalan yang kembali datang dan bahkan menghadang tekad Anda, serta luka lama yang kembali mengucurkan nanah dan darah.

Ya, ada pijar api kecil yang baru bertumbuh lewat aktivitas pelayanan, tapi di saat yang sama, mulai berguman, “Ah, aku pasti keok lagi, gagal sekali lagi.” Ya, ini bahkan sudah mau senja lagi. “Hei, lihatlah Tuhan kita baru saja memasang bola raksasa di angkasa, itulah matahari!’

b. Mata, karena Membandingkan

Keadaan belumlah apa-apa, tapi kita sudah kecut duluan. “He, lihat mereka sudah jaya, sudah terbang tinggi, tapi kita ini bisa apa?” Tapi Anda lupa, bahwa waktu Tuhan tidaklah sama dengan waktu Anda, bukan?

c. Mata, karena Iman Kecil

Kita manusia memang pengecut, karena baru saja ada gangguan, tapi kita sudah langsung terjerembab.

“Kita binasa!” (Markus 4: 38). Padahal di saat itu, Yesus hadir bersama mereka di buritan. Tapi ingatlah, bahwa saat ini belumlah senja; bukankah mentari pun masih bernyala?

  1. Filosofi: “Mata Sadarku” di Titik ini

“Kala Pagi Dikira Senja” adalah sebuah tragedi iman. Dalam kondisi krisis iman, kita seolah-olah sedang menguburkan benih, karena mengira musimnya sudah lewat dan sudah tiba musim gugur. Kita seolah-olah mau mengatupkan dedaunan pintu rumah duka kita, karena mengira tamu sudah beranjak pergi. Tapi, ingatlah pesan Sang Guru Agung kita,

“Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya”
(Pengkhotbah 3: 11).

Janganlah Anda lupa, bahwa di saat senja paling gelap dan salib pun tertancap di bukit Golgota, … 3 hari kelak, pun datanglah sang mentari kebangkitan.

  1. 3 Jenis Obat untuk “Salah Lihat”
  • Bertanyalah kepada si Penjaga Waktu

“Penjaga, berapa lama lagi malam
ini?”
(Yesaya 21: 11).

  • Pandangilah Cahaya, bukan Warnanya

Bukankah baik pagi hari maupun di senja hari, mempunyai warnanya tersendiri? Sekalipun ada perbedaannya, bahwa yang satu mau naik, dan yang lainnya mau turun!

  • Berani mulai lagi

“Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, bila sudah datang waktunya, kita akan menuai” (Galatia 6: 9).

Konklusi

Kala Pagi Dikira Senja

Adalah momentum paling kritis, bahwa kita hampir saja menyerah, 5 menit menjelang mukjizat.”

Kediri, 9 September 2026