Sayap-sayap Pengharapan

Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Pengharapan itu bukanlah sebuah janji, bahwa badai akan berlalu. Melainkan keyakinan, bahwa Anda pun punya sayap untuk berani terbang di tengah terpaan badai.”
(Didaktika Hidup Sadar)
Sebuah pengharapan itu memang cenderung untuk bersikap aneh, karena bukankah manusia itu makhluk yang tidak sanggup terbang? Tapi dia justru selalu mendorong kita untuk berani terbang.
- Sayap itu sebagai Simbol
Sepasang sayap itu tidak identik dengan menginjakkan tumit di atas tanah, tapi dia justru diciptakan hanya untuk terbang di angkasa nan biru.
Bahkan para filsuf berkata, bahwa manusia itu memang sebagai makhluk yang serba ‘antara’; ya, antara sebuah kenyataan dan sebuah kemungkinan.
Mengapa justru demikian anggapan para filsuf? Ya, karena bukankah riil pula, bahwa manusia adalah makhluk yang memang diciptakan untuk merangkak di atas bumi. Di sisi lain, ternyata hati manusia itu selalu ingin terbang demi menggapai langit?
Bukankah sayap-sayap pengharapan itu dapat bermakna, bahwa manusia diberi kemampuan untuk tidak terjebak di atas bumi ini. Artinya, makhluk manusia dapat terbang dalam konteks yang bermakna filosofis.
- Risiko, jika Punya Sayap
Mempunyai sayap itu dapat berarti ‘punya asa dan harapan.’ Dalam konteks ini, manusia juga siap untuk menerima kekecewaan hidup. Karena bukankah si ‘Ikarus’ (tokoh sentral dalam mitologi Yunani), justru jatuh terpelanting ke bumi karena ia terbang terlampau dekat dengan matahari?
Di sisi lain, jika manusia itu ternyata tidak pernah terbang, bagaimana ia bisa melihat dunia ini dari angkasa?
Bukankah pula, bahwa pengharapan telah mengajarkan manusia untuk berani ‘terluka’ demi berani hidup?
- Untuk Apa Terbang?
Jika sayap-sayap tanpa arah, maka sebetulnya hal itu sama saja dengan sekadar berputar-putar. Jika sebuah pengharapan tanpa tujuan, maka hanya akan jadi angan-angan belaka.
Sayap-sayap pengharapan itu hanya menjadi nyata, justru jika ia dipakai untuk 3 hal berikut!
- Demi ‘memaafkan’ sebuah masa lalu dari manusia lemah itu.
- Demi ‘menjalani realitas’ masa kini dari manusia berpengharapan itu.
- Demi ‘menyongsong’ sebuah masa depan dari manusia berpengharapan itu.
Konklusi
Adapun intisarinya, bahwa pengharapan itu bukanlah sekadar sebagai sebuah janji muluk, tapi sebagai sebuah keyakinan, bahwa manusia itu justru memiliki sayap-sayap untuk berani terbang sekalipun kala ia di hadang terpaan badai dasyat.
Kediri, 8 September 2026
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.