Gebyar Parade Aneka Api
Mosaik Serpihan Kelana -36
Pemburu Jejak Angin
Simply da Flores

Ladang arang menjerit dan debu merintih
Api melahap hijau hutan rimba
Bara melenyapkan rumah dan makanan margasatwa
Sedangkan tangan rakus tamak terbahak
rayakan kepongahan dan pikiran licik egois
Kebakaran hutan ceritakan bara kejahatan dan nyala api kerakusan
Demi menghindari kewajiban reboisasi lahan
maka kebakaran menjadi jalan pintas abaikan tanggungjawab
Masalah diatasi dengan kreasi kejahatan yang berulang
karena yakin diri mereka tuan atas alam semesta dan Tuhan atas sesama saudara yang tak berdaya
Gulita malam kisahkan gebyar tarian api
dari panggung sandiwara kerakusan segelintir sosok rakus tamak
Alam menjawab jeritan nasib margasatwa
Gunung api erupsi tumpahkan lahar dan bara api
meskipun tidak banyak yang peduli
karena merasa kaya dan berkuasa abadi
Dari tunggu sanubari yang lapar kata menderita
api amarah dan gugatan menyala membakar emosi
dalam gelombang demi dan aneka aksi protes
Sedangkan di tungku dapur keluarga sering asap tidak mengepul
lantaran kemiskinan dan kegalauan terus mendera
Terlihat wajah pasrah galau margasatwa
yang terkepung nyala bara kesombongan manusia
mengemis belas kasih pada langit yang kelam
mengadu pada debu tanah yang getir kepanasan
Adakah nasibnya segera menjadi arang dan abu
menyusul sesamanya yang sudah terbakar sirna
Pepohonan yang menjadi hutan belantara ratusan tahun
kini menjelma jadi arang dan abu dalam hitungan jam
Sedangkan kerakusan tamak segelintir orang
sepertinya makin membara dan bernyala di atas lara derita alam dan sesama yang miskin merana
Ada tanya yang mengusik dalam gulita malam
mengapa lahar api erupsi justru mendera rakyat yang miskin merana
Mengapa deru debu vulkanik menerjang masyarakat sekitar gunung yang sahaja
Tanya ini semakin tajam menikam jiwa raga para korban
entah yang tinggal di wilayah kebakaran hutan
entah yang hidup di pelataran gunung api
entah yang sedang diguncang gempa dan disapu banjir bandang
Ketika panggung sandiwara dunia mempertontonkan kerakusan segelintir manusia
Ada damba harapan pada semesta akan datangkan Ratu Adil dan Pemimpin bijaksana
Namun…
ketika bencana alam datang melanda nasib malang masyarakat miskin tak berdaya
Api di tungku dapur padam sirna dan hanya tanya galau mengepul membutakan jiwa raga
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.