Gamang

“Hidup bukan siapa cepat, tapi bijak melangkah dengan tepat.” -Rio, Scj

Banyak dari kita mengira gamang itu sama dengan enggan, bingung, dan sama dengan bimbang. Tapi nyatanya gamang adalah perasaan, ketika kita tahu ada sesuatu yang berubah tidak tahu harus menyebutnya apa dan harus bagaimana. Perasaan yang muncul, ketika hidup membawa kita ke tempat baru ada rasa kawatir, ngeri, takut, bimbang, dan kesepian. Semua rasa itu berpadu menjadi satu.

Ketika sesuatu yang selama ini kita kenal, perlahan berubah bentuk. Kita tahu jelas perubahannya, tapi hati kita belum di sana. Seperti sebagian ingin melangkah, tapi sebagiannya lagi rasanya masih tertinggal, tidak ingin beranjak. Seolah ada sesuatu yang menahan. Tetap tak bergerak seperti sedang berusaha memahami diri sendiri, berusaha untuk mengerti peristiwa yang sedang dialami. Singkatnya, ketika hati ini butuh waktu untuk memahami, mengerti dan menata diri apa yang perlu diperbaiki.

Perjalanan hidup pun begitu, di tengah jutaan kejutan dan perubahan sering kita merasa gamang. Bukan lari, bukan pula menyerah kalah. Tapi butuh waktu untuk menimbang, menata diri agar setiap pilihan dan keputusan bisa dipertanggungjawabkan. Juga bukan takut melangkah, tapi sejenak berhenti membuka anugerah dan berkah.

“God give us a second chance,” kesempatan selalu Tuhan sediakan. Gamang adalah pilihan bijak untuk menyediakan waktu sejenak agar kesempatan yang Tuhan berikan tidak terbuang sia-sia. Jika hari ini kita gamang, itu tanda Tuhan sedang menuntun kita menemukan jalan. Menjadi tanda kita bijak menimbang antara melangkah atau tetap tinggal sejenak untuk menata diri.

Deo gratias.

Rm RP Rio, Scj