Jadilah Perahu dan Jala Tuhan

“Sekuat dan sebagus apa pun sebuah perahu dan jala bukan semata tergantung pada bahan buatannya, melainkan pada orang yang mendayung dan menggunakan untuk menjala. Bila perahu dan jala hanyalah benda mati yang berfungsi, ketika disentuh oleh tangan manusia, maka engkau adalah manusia yang dipercaya oleh Tuhan untuk menjala manusia.”
Kadang dunia memberi kita seribu alasan untuk bersedih dan berpasrah seperti Petrus; kegagalan bahkan kebangkrutan dalam usaha/bisnis, kenakalan anak-anak, hidup rumah tangga yang tidak harmonis, dan lain sebagainya. Semua itu yang membuat kita harus datang kepada Yesus dan mengeluh, “Tuhan, aku telah melakukan yang terbaik, tapi belum nampak hasilnya.” Apakah kita harus kecewa dan mundur? Ingat jawaban selanjutnya dari Petrus ini yang jadi penting, “Tapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.”
Kita bisa bertanya:
- Bila Tuhan menghendaki adanya sebuah perkawinan, lalu apa yang Anda harus takuti dan cemaskan?
- Bila Tuhan memanggil kita untuk sebuah pelayanan, lalu apa yang hendak ditakuti?
Jika Tuhan menghendaki kita melakukan sesuatu untuk-Nya, maka jangan pernah berpikir tentang hasilnya. Fokus pada prosesnya, lakukan yang terbaik, karena Tuhan pasti memahkotai usaha dan perjuangan kita dengan hasil yang gemilang.
Sadarlah, bahwa kita adalah jala dan perahu dari Nelayan Terbaik dan Terhebat, yakni Yesus sendiri.
Monsignor Inno Ngutra, Pr
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.