Diutus untuk Jadi Penjala Manusia

Dunia dewasa ini, dengan segala kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, di samping membawa kebaikan bagi kehidupan manusia, juga membawa berbagai masalah. Salah satunya ialah manusia terperangkap dalam sikap menjadi ‘tuan’ atas sesama dan ciptaan lain. Akibatnya, orientasi manusia bukan lagi menuju ‘dunia yang akan datang’, melainkan terpusat pada dunia saat ini dengan segala kemajuan yang bersifat sementara.
Hal itu yang membuat Rasul Paulus dengan tegas menasihati agar manusia tidak boleh menjadi sama dengan dunia ini (Rm. 12: 2). Jika manusia menjadi sama dengan dunia ini, maka manusia melupakan identitasnya sebagai murid Kristus.
Sebagai murid Kristus, identitas kita antara lain hidup dalam persatuan dengan Dia dan bersedia untuk melaksanakan tugas perutusan kita. Sebagaimana Yesus memanggil Petrus untuk menjadi penjala manusia, kita pun dipanggil melalui tugas kita masing-masing untuk juga menjadi penjala manusia. Untuk tugas perutusan itu, Kristus tidak menghendaki murid-murid-Nya memiliki kelekatan dengan dunia, tapi menarik diri ke luar dari dunia ini. Dengan ke luar dari dunia ini, kita dapat melindungi sesama dari dunia ini dan mengantar mereka pada persatuan dengan Allah. Itulah tugas kita sebagai murid Kristus. Hal ini telah dihidupi oleh Santo Gregorius Agung dalam pelayanannya sebagai Paus. Ia berani melepaskan jabatan hanya untuk melayani Tuhan dalam orang miskin dan para budak. Ia selalu menyadari identitasnya sebagai “abdi para abdi Allah (Servus Servorum Dei).”
Apakah kita menyadari identitas kita sebagai murid Kristus dalam dunia ini?
Ta, Tuhan Yesus, Sang Guru Ilahi, Engkau selalu mengutus kami murid-murid-Mu untuk hidup dalam dunia ini dengan semangat pemuridan. Mampukanlah kami agar selalu hidup dalam persatuan dengan-Mu. Amin.
Ziarah Batin
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.