Refleksi Filosofis:
Bahasa Alam, Bahasa Semesta

Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK

“Belajarlah mendengar, karena Tuhan paling sering bicara hanya lewat sunyi.”
(Amanat Sunyi)

Di saat alam menderu gemuruh bak memecah angkasa, maka manusia pun gementar dan tersungkur cemas. “Eh, alam lagi batuk,” demikian guyonan manusia.

Di kala bumi bergetar keras berguncang sambil memporakporandakan segalanya, maka manusia pun jatuh terkapar terhempas bersama serakkan reruntuhan; ya, itulah bahasa kemurkaan alam?

  • Ya, alam ini memang tidak pernah berkhotbah, tapi di setiap saat ia lantang berbicara.
  • Semesta ini tidak pernah menuliskan sepucuk surat, tapi di setiap saat ia mengirimkan pesan. Itulah yang dikatakan sebagai bahasa alam, bahasa yang ternyata sanggup menikam hingga ke hulu hati manusia.

Ada Tiga Hal yang Diajarkan Semesta kepada Manusia

a. Bahasa Diam/Bisu:

Ingat dan saksikan di kala malam tiba. Tampak alam seolah tertunduk lesu, diam, dan sunyi. Seperti juga pepohonan yang baru berbuah kala musim tiba. Maka, kita kenal musim-musim: musim bunga, buah, tanam, tunas, gugur, dan tanam.

Inilah aspek filosofinya, bahwa memang segala sesuatu itu toh ada musimnya. Ya, ada musim: duka derita, ada musim rindu mendera, dan ada musim terluka yang sembuh dari luka.

Jadi, alam semesta ini berproses juga.

b. Bahasa Keteraturan: Tinggalkan Jejak bukan Kekacauan

Pernahkan walau sedetik saja, mentari terlambat tiba? Apakah pernah air sungai mengalir ke tempat yang lebih tinggi? Juga gemintang pun hanya bertaburan pada garis edarnya, bukan?

Inilah aspek filosofinya, bahwa hidup yang baik itu teratur oleh karena kasih.

c. Bahasa Pengorbanan: Memberi tanpa Diminta

  • Bukankah tanah memberi makan, tanpa bertanya, siapakah yang menanam?
  • Bukankah air memuaskan dahaga jiwa, tanpa bertanya, siapakah yang kehausan?
  • Juga semilir angin sepoi nan sendu mengipas, tanpa bertanya, siapakah yang kepanasan?

Inilah aspek filosofinya: Ukuran kebesaran manusia, bukan dari yang dia terima, tapi justru dari yang dia berikan.

Inilah Amanat Sunyi

“Belajarlah untuk mendengar, karena Tuhan pun paling sering berbicara hanya lewat sunyi.”

Kediri, 31 Agustus 2026