Menjadi Pelaku Sabda dan Pembawa Keadilan

Menurut survei LSI tahun 2021, tingkat kepercayaan masyarakat Indonesia terhadap tokoh agama masih tinggi, tapi sering kali hanya sebatas simbol, bukan ajakan untuk berubah. Hal ini mirip dengan situasi di Nazaret saat Yesus kembali ke kampung halamannya. Mereka mengenal-Nya sebagai ‘anak Yusuf’, tapi tidak mampu melihat siapa Dia sebenarnya. Alih-alih membuka hati, mereka justru menolak Dia saat sabda-Nya menantang kenyamanan hidup mereka.
Yesus membaca nubuat Yesaya tentang Mesias yang membawa kabar gembira bagi orang miskin, membebaskan tawanan, dan menyembuhkan yang tertindas. Ketika sabda itu dikenakan pada diri-Nya dan realitas sekitar, mereka murka. Inilah tantangan kita: “Apakah kita siap menerima sabda Allah, ketika menyentuh sisi gelap hidup kita?” Sabda Tuhan bukan hiburan, melainkan ajakan untuk bertobat, berubah, dan bertindak.
Santo Oscar Romero pernah berkata, “Sebuah Gereja yang tidak menyentuh luka rakyatnya bukanlah Gereja sejati.” Kita dipanggil bukan hanya mendengar sabda, melainkan jadi pelaku sabda: Menjadi pembebas bagi yang tertindas, penghibur bagi yang patah, penyambung harapan bagi yang kecil. Menjadi pembawa kabar baik berarti siap ditolak, karena kebenaran, tapi tetap setia pada kasih Kristus.
Mari kita bersama-sama membela hak kaum kecil, menolak diskriminasi, dan berani menyuarakan keadilan di tengah komunitas, meskipun itu membuat kita tidak populer. Sabda Tuhan menuntut keberanian, bukan kenyamanan.
“Tuhan, bukalah hati kami agar sabda-Mu sungguh mengubah hidup kami. Berilah kami keberanian untuk menyuarakan kebenaran dan kasih di tengah dunia. Jadikan kami pewarta Injil dalam perkataan dan perbuatan. Amin.
Ziarah Batin
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.