Luluh

“Hidup bukan untuk bertahan, melainkan beradaptasi menemukan peluang berkat Tuhan.” -Rio, Scj.

Pernah tidak kita bertahan begitu lama sampai akhirnya lelah untuk melawan. Ada satu kata dalam Bahasa Indonesia yang mengungkapkan ini: Luluh. Luluh, ketika seseorang yang selama ini bertahan akhirnya berhenti melawan. Bukan karena lelah dan kalah, melainkan mungkin karena akhirnya sadar, bahwa tidak semua hal itu harus dilawan. Ada rasa yang tidak perlu dipikirkan. Ada luka yang tidak harus buru-buru disembuhkan. Ada rindu yang cukup dirasakan. Ada hati yang akhirnya berhenti mengeras.

Luluh bukan tentang menyerah. Luluh itu saat kita berhenti berperang dan mulai berdamai dengan apa yang kita rasakan. Luluh saat kita yang selama ini bertahan akhirnya berhenti untuk melawan. Luluh itu ikhlas

Hidup juga begitu, ada keadaan yang membuat kita tidak bisa apa-apa selain menerima, bertahan, dan bersyukur boleh mengalami semua itu. Faktanya tidak semua bisa kita kendalikan, dan tak mungkin juga semua bisa kita kendalikan. Yang bisa kita buat adalah menerima dan beradaptasi. Dalam posisi ini kitalah ahlinya.

Satu lagi yang jadi fondasi kata luluh untuk hidup kita: “providential dei” – penyelenggaraan Ilahi. Inilah yang tidak bisa dijelaskan. Cara Tuhan bekerja kadang tidak bisa dimengerti dengan logika. Hanya dengan iman kita bisa merasa, dan dengan hati kita bisa bersyukur. Inilah ikhlas tingkat tinggi. Bukan hanya bertahan menerima keadaan, tapi beradaptasi mencari peluang dan berkat Tuhan.

Deo gratias.

Rm RP Rio, Scj