Refleksi Tentang Ketakabadian:
Sebuah Warisan Abadi

Oleh:Fr. M. Christoforus, BHK

“Ayahku laksana tempayan tua itu, banyak retakkannya, tapi selalu dan tetap berguna bagi kami”
(Kesaksian Seorang Anak)

“Seorang Ayah telah mendirikan sebuah rumah, sedangkan Ibu memasukan matahari ke dalamnya, dan anak-anak pun akan melihat sebuah jalan!”

Mengenang Sang Ayah Kala 1000 Hari Kepergiannya

Setelah kami khusuk berdoa bersama para tetangga, maka salah seorang dari keempat putranya angkat bicara.

Inilah Buah Turutan dari Sang Putra

Para saudara-saudari, yang telah sehati dan sejiwa setia bersemadi bersama kami demi keselamatan jiwa, Ayah kami!

Izinkan saya untuk mengenang sekilas, bagaimanakah sosok karakter agung Ayah kami.

Bagiku dan juga bagi saudaraku berempat, figur Ayah itu laksana ‘sebuah tempayan.’ Walaupun tempayan itu telah uzur, berdebu, dan hilang kilauannya, bahkan juga sudah banyak retakkannya, dan bocor, tapi sungguh, ia tetaplah berguna.

Saya teringat dan mengenangnya lagi, sebagai putra sulung yang masih kekanak-kanakan, di suatu hari, saya berkata kepada Ayah, “Ayah, buanglah saja tempayan tua itu. Bukankah ia sudah bocor, berdebu, dan tua?”

Keteguhan dan Keyakinan Sejati Ayah

Dengan tenang dan santun Ayahku memandangiku sambil berucap, “Anakku, ya, benar juga kata-katamu. Tapi, bagi Ayah, ia masih sangat berguna untuk mengisi air bagi kita. Bahkan retakkannya itu justru juga berguna, karena tetesan air darinya telah Ayah gunakan untuk menyiram tanaman di belakang rumah kita.”

Ayahmu adalah Malaikatmu

Ayah yang hebat, bermartabat, dan dikaruniai rahmat serta damai, takkan lekang dimakan usia dan waktu. Ia bahkan cemerlang dan mulia.

Ketahuilah, bahwa usia tua, kotor dan berdebu, dan banyak retakkannya itu bukanlah sebagai penghalang untuk membagikan kasih karunia yang telah dilimpahkan dari Tuhan, Sang Pemberi hidup sejati! Ya, bukankah Ayah sejati adalah ‘Malaikatmu?’

Bukankah pula, retakan pada tubuh ringkihnya, tetesan air yang lembut dari balik retakannya itu adalah air rahmat yang dibagikannya pada kita dari saat ke saat dan dari waktu ke waktu?

Jika kita ingin mengenang keagungan figur sang Ayah, lihat dan kenanglah lewat semua warisan yang telah ditinggalkannya.

Bukankah hidup dan seluruh karya cemerlang kita di hari-hari ini adalah ekspresi dari doa dan harapannya lewat tetesan air rahmat dari balik ringkih tubuh rohaninya?

Cinta akan Melahirkan Cinta lagi

“Amor gignit amorem,” Cinta pun akan melahirkan cinta lagi, demikian makna dari adagium Latin ini. Sungguh benar! Bahkan nada, harapan, dan sayap cinta pun tidak akan terbang jauh dari sisi gelisah hidup ini. Ia akan setia mengitari lelah dan resah hidup kita kini, selalu, dan selamanya.

Refleksi Penutup

“Allah orang hidup pun mati, bangkitkanlah kesadaran sejati di dalam diri kami, agar senantiasa mau bersyukur atas garis keturunan kami secara turun temurun.

Berkatilah hidup dan berbagai upaya kami demi memuliakan Nama-Mu, lewat jasa-jasa baik dari para pendahulu kami.

Doa dan harapan ini kami lambungkan, demi memuliakan Nama-Mu, kini dan selamanya. Amin.

Kediri, 29 Agustus 2026