Lirih

“Lirih bukan berarti tak terdengar, tapi keras bersuara dalam rasa.” -Rio, Scj.
Lirih, ketika mendengar kata lirih, yang sering kita bayangkan adalah suara yang pelan, yang hampir tidak terdengar, tapi ternyata yang lirih tidak selalu berupa suara. Kadang perasaan juga bisa datang dengan lirih. Seperti rasa rindu yang tiba-tiba hadir, waktu kita mencium wangi parfum seseorang. Rasa belas kasih yang lirih saat melihat penderitaan usai bencana. Rasa sedih yang datang diam-diam setelah sebuah lagu selesai. Tidak heboh, tidak sampai bikin meneteskan air mata. Rasa terpesona saat merasa mukjizat terjadi dalam hidup kita.
Lirih itu sebuah kata yang sulit dicarikan padanan. Rasa yang lembut mengendap dan berbicara dalam diri kita. Ia hadir lembut dan pelan, kadang kita hampir tidak menyadarinya. Rasa yang susah dijelaskan, tapi sering kita rasakan. Seperti kehadiran Tuhan. Ia hanya bisa dipahami dan mengerti dengan iman, dirasakan dengan kasih, abadi dalam pengharapan. Itulah kenapa Tuhan hadir bukan dalam kobaran api, deru badai, dan gelombang. Bukan pula dalam gemuruh bencana, tapi dalam Anging mamiri … sepoi-sepoi.
Butuh hati hening untuk mendengar lirihnya rencana Tuhan. Butuh hati tenang merasakan kehadiran-Nya. Butuh iman untuk merasakan besar kecilnya mukjizat-Nya. Butuh kesetiaan buat mengerti kebenaran dan kesucian-Nya. Butuh ikhlas dan syukur untuk menyambut berkat dan anugerah-Nya.
Deo gratias.
Rm RP Rio, Scj
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.