Refleksi Eksistensialis:
Siapakah Diriku?
(Sebuah Catatan Lepas)

Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK

“Jadilah dirimu yang paling otentik”
(Didaktika Hidup Sejati)

  1. Aku bukan Labelku

Janganlah memandangiku hanya lewat: ‘jabatanku, nilaiku, atau pada followerku!’ Juga bukan sebagai ‘anak siapa, suami atau istri siapa, dan bukan pula karena aku pernah berbuat salah!’

Sejatinya, “Keberadaanku itu justru mendahului esensiku.” Artinya, aku hadir dan ada dulu, baru aku memilih siapakah aku ini!

  1. Aku adalah Pilihanku

Bukankah filsuf Sartre pernah berucap, “Kamu dikutuk demi suatu kebebasan.” Setiap hari aku seperti mesin perontok bulir jagung: ya, karena itu-itu saja bagianku. Aku benar-benar seolah sudah dikutuk!

  1. Aku adalah Kecemasanku

“Cemas itu adalah rasa pusing, karena kebebasan,” demikian filsuf Kiekegaard. Ya, aku cemas, karena aku tahu, bahwa hidupku adalah sebuah tanggung jawabku. Bukankah tidak ada pribadi yang bisa hidup untuk aku? Bahkan bisa meninggal demi aku? Ya, hanya Tuhan, tidak ada siapa-siapa. Jadi, kecemasan itu bukan sebagai tanda, bahwa iman yang lemah, melainkan sebagai tanda, bahwa aku masih sebagai seorang manusia biasa (errare humanum est).

  1. Aku adalah Relasimu

“Aku bukanlah sebagai aku yang sendirian,” demikian filsuf eksistensial Gabriel Marsel. Karena yang benar adalah, bahwa “Aku menjadi aku, karena ada dan hadirnya Engkau.”

Siapakah Diriku …?

  • Aku memiliki sepotong nama.
  • Aku disapa di sebuah tikungan jalan di kala senja tiba.
  • Aku seorang yang tidak pernah benar-benar sebagai sebatang kara, walaupun aku merasa seorang diri.
  1. Aku adalah Misteri yang Belum Selesai

Ya, karena aku bukan mesin, maka aku tak mampu membedah diriku. Aku hadir dalam ruang hidup ini dan hari ini aku belumlah selesai. Tapi, keesokan hari aku bisa memilih lagi.

‘Catatan Lepas’ Penutup

Pertanyaan, “Siapakah diriku?Dapat saja tak pernah ada jawaban finalnya. Tapi aku sadar, bahwa:

  • Aku bukanlah apa yang terjadi pada diriku.
  • Aku adalah apa yang aku pilih untuk lakukan pada diriku. Ketahuilah, bahwa aku tidak pernah melakukan seorang diri.

Jadi, semua yang aku lakukan hari ini bukanlah karena aku kuat, sanggup, dan hebat. Melainkan karena aku setia dan Engkau telah menopangku di jalan-jalan terjal ini.

Maka…
“Jadilah dirimu yang paling otentik!”

Kediri, 28 Agustus 2026