Keteladanan itu dari Hati

“Hidup adalah jalan keteladanan yang didasari kasih agar kita ikhlas hati.” -Mas Redjo
Keteladanan itu tidak dinilai dari berjuta kata nasihat, tapi perbuatan nyata yang sumbernya dari hati.
“Anak itu mudah meniru perilaku orangtuanya,” tegas BS mengenai cara mendidik anak secara efektif dan baik.
Mendidik anak untuk menjadi baik itu dimulai sejak dini. Anak tidak harus dijejali seabreg nasihat, tapi dengan kebiasaaan baik: dari hal-hal kecil dan sederhana. Tujuannya agar contoh keteladanan orangtua itu terekam baik dalam memori anak.
Bagi BS, bidang keilmuan itu mudah dipelajari, tapi membangun adab itu yang utama dan pertama agar bibit ‘kasih’ itu bertumbuh subur di hati anak seiring bertambahnya usia.
BS sadar-sesadarnya, hakikat dan tanggung jawab orangtua dalam membesarkan anak itu tidak mudah seiring kemajuan dan tantangan zaman.
“Banyak orangtua ingin anaknya pandai, sukses, kaya, dan tenar itu biasa. Tapi saya takut, jika anak tidak mempunyai adab dan hilang kepedulian serta empati pada keluarga dan sesama,” tandas BS yang mengaku, meski tidak sekolah tinggi. Tapi, karena tekun dan jujur itu ia cukup berhasil dalam bisnis kuliner.
Cara BS dalam membimbing dan mengarahkan anak adalah dengan berlatih kreativitas. Anak diajak membuat kerajinan dari barang atau koran bekas. Misal tempat pensil, mobil-mobilan, dan banyak lagi. Sehingga kemampuan anak makin terasah dan terampil.
Dengan menggali potensi anak, BS mengarahkan anak-anaknya sesuai bakat, talenta, dan minatnya tanpa mereka merasa digurui. Sehingga anak mampu mengembangkan bakat dan talentanya itu secara maksimal untuk mewujudkan cita-citanya.
Kunci sukses BS menghantar anak-anaknya untuk menjadi pribadi yang mandiri dan bertanggung jawab adalah dengan menerapkan falsafah Ki Hajar Dewantara, “Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, dan Tut Wuri Handayani” itu dalam keluarganya.
Berkah Dalem,
Mas Redjo
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.