Enggan

“Hidup itu bukan siapa cepat, melainkan soal tepat mendapatkan anugerah dan berkat.” -Rio, Scj.
Pagi ini dingin, meski mentari terang bersinar. Suasana dingin kadang membuat hati dan tubuh ini enggan bergerak. Enggan itu satu kata yang luar biasa. Enggan bukan berarti tidak mau. Bukan berarti malas. Beda lagi dengan kata tidak yang berati sudah selesai. Enggan itu mengungkapkan, bahwa masih ada sesuatu yang tinggal, keinginan, dan harapan; hanya saja ada sesuatu yang membuat kita belum bergerak.
Kadang kita enggan pergi itu bukan karena tidak tahu jalan pulang, melainkan karena masih ingin tinggal sedikit lebih lama. Kadang kita enggan memulai bukan karena tidak ingin mencoba, melainkan karena takut, jika hasilnya tidak seperti yang dibayangkan. Kadang kita enggan melepaskan bukan karena tidak tahu bahwa semuanya sudah selesai, melainkan karena hati kita belum selesai berpamitan.
Enggan itu jujur dan halus. Ia tidak terdengar keras, memaksa, dan tidak menghakimi. Enggan hanya mengakui, bahwa ada beberapa hal yang memang membutuhkan waktu dan proses. Jika hari ini kita merasa enggan, santai saja. Kita enggan itu bukan karena tidak mampu dan tidak berani. Kita hanya sedang mengumpulkan cukup hati untuk melangkah dan itu tidak apa-apa.
Hidup kita juga begitu kok, pikiran merencanakan, hati bijak menimbang, kaki dan tangan melakukan setiap pilihan dan keputusan. Ada saatnya kita menimbang dengan matang, baru melakukan. Ada saatnya kita cepat bertindak tanpa harus mempertimbangkan. Ada saatnya bergerak reflek, karena tuntutan keadaan. Yang jelas Tuhan merancang rasa enggan bukan tanpa tujuan. Tuhan ingin kita mempunyai waktu menimbang, mengumpulkan bahan bakar untuk melangkah. Merencakan dengan matang agar tidak salah jalan. Hidup bukan soal perlombaan siapa cepat, melainkan tepat menurut rencana-Nya.
Deo gratias.
Rm RP Rio, Scj
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.