Cermin Kehidupan

“Ketika membalas perlakuan buruk atau jahat orang lain, segeralah bercermin, ternyata wajah kita tidak kalah buruk.” -Mas Redjo

Coba diamati perubahan wajah dan perilaku orang yang sewot, marah, atau mengamuk itu. Apa alasannya, padahal kita tidak bersalah? Apa harus dibalas?

Ya, kita juga tentu pernah sewot, marah, atau mengamuk. Dada ini jadi sesak, sakit, dan seperti mau meledak. Bahkan banyak orang yang mengamuk, karena stres. Wajah ini jadi jelek, bahkan mudah terserang sakit penyakit.

Begitu pula, jika kita menyimpan kebencian, permusuhan, atau mendendam pada orang lain itu berarti meracuni hati sendiri. Hidup pun tiada tenang dan damai.

Berbeda hasilnya, jika kita mampu mengendalikan diri untuk bersikap tenang dan berpikir jernih. Ibarat kita membawa cermin untuk refleksi diri agar yang ke luar dari mulut itu bukan yang berasal dari pikiran, melainkan dari hati.

Ketika berpikir dan melakukan hal-hal negatif dan buruk, sejatinya kita tidak hanya melukai orang lain, tapi menyakiti hati sendiri. Misalnya iri, cemburu, sombong, berbohong, dendam, dan seterusnya. Apalagi, jika kita melampiaskan pada orang yang bersangkutan. Mungkin kita terpuasi dan dada serasa longgar, tapi hati pun sakit. Bisa jadi, kita lalu saling membenci, bermusuhan, dan mendendam.

Sebaliknya, jika kita melakukan hal-hal positif dan baik itu dilandasi kasih. Dada ini serasa longgar dan damai. Jika merasa sakit dan nyeri itu sejatinya ego sendiri, karena kita berpura-pura, terpaksa, dan tidak ikhlas.

Selalu mengedepankan semangat rendah hati untuk tidak membalas perlakuan buruk orang lain. Tapi untuk senantiasa bersikap tenang dan berpikir jernih untuk hidup berhikmat. Dengan mengasihi sesama, kita mewujudkan teladan Tuhan Yesus.

Hidup jujur dan benar yang dilandasi kasih, karena kita saluran berkat-Nya.

Mas Redjo