Mengenal Lewat Perjumpaan dan Ketulusan Hati

Kita sering menemukan orang yang menilai atau mengenal seseorang hanya lewat media sosial. Satu unggahan bisa membentuk kesan yang dangkal. Padahal mengenal seseorang dengan sungguh itu butuh perjumpaan, keterbukaan, dan kejujuran.

Hal itu juga terjadi dalam Injil, saat Filipus mengajak Natanael (yang dipercaya sebagai Bartolomeus) untuk mengenal Yesus. Awalnya ia skeptis, “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” Filipus tidak berdebat, ia hanya berkata, “Mari dan lihat.”

Yesus, yang melihat hati terdalam manusia, langsung mengatakan, bahwa Natanael adalah pribadi tanpa kepalsuan. Perjumpaan itu mengubah keraguan menjadi iman. Natanael berseru, “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!” Tuhan tidak butuh orang yang sempurna, Ia mencari orang yang tulus dan terbuka. Kejujuran hati adalah pintu masuk bagi rahmat.

Santo Bartolomeus mewakili pribadi yang berani mencari kebenaran dan tidak takut berubah, ketika menemukan yang sejati. Ia jadi pewarta Injil yang setia sampai akhir hidupnya, bahkan hingga wafat sebagai Martir.

Dalam hidup kita, Tuhan juga melihat lebih dalam dari sekadar penampilan atau kesalahan masa lalu. Ia mencari hati yang mau datang dan melihat dengan iman.

Santo Yohanes Paulus II pernah berkata, “Iman tumbuh, ketika dibagikan.” Filipus membagikan imannya, dan itu mengubah hidup Bartolomeus.

Kita dipanggil untuk jadi ‘Filipus’ bagi sesama; mengundang, bukan memaksa; menunjukkan Yesus, bukan menggantikan-Nya.

Tuhan Yesus, tuntunlah kami agar semakin mengenal dan mencintai-Mu seperti Bartolomeus. Buatlah hati kami tulus dan terbuka terhadap kebenaran-Mu. Jadikan kami pembawa kabar sukacita bagi sesama. Amin.

Ziarah Batin