Sibuk

“A busy life is a wasted your life.” -Rio, Scj.
Jebakan dunia paling halus, tapi mematikan adalah kesibukan. Sebagian orang senang, bila dianggap sibuk. Sampai tidak bisa membedakan antara aktivitas dan efektivitas. Alasannya sih produktif, padahal cuma agar tidak dianggap pasif. Yang paling bahaya itu kelihatan sibuk ingin gaji besar, tapi lupa diri.
Sibuk dengan berjuta aktivitas itu boleh, tapi musti sibuk yang efektif. Kita dapat belajar dari ‘traffic light’. Saat lampu berwarna merah, jangan terabas. Bahaya bisa jadi kita merenggang nyawa. Berhenti dong sejenak, tunggu lampu hijau menyala. Baru jalan.
Hidup juga musti seperti itu, perlu ada saatnya berhenti, melihat dengan jeli setiap peluang, sejenak mengevaluasi, dan merencanakan. Hidup itu tidak melulu terus bergerak. Ada saatnya berhenti sejenak. Apa sih yang mau dicari dan buru-buru dikejar? Bayangkan, kalau semua kebut-kebutan lampu merah tidak dihiraukan, sehingga terjadi kecelakaan.
Hidup ini bukan cuma jalan, berhenti, dan ada saatnya juga kita harus hati-hati. Jangan sen kiri, tapi belok kanan. Itulah lampu kuning, boleh jalan tapi fokus dan berhati-hati. Hidup kita juga begitu. Bijak untuk memilih, menimbang, dan memutuskan.
‘Traffic light’ bisa memberi kita pembelajaran, apalagi pengalaman. Belajarlah untuk memilih dan memutuskan, kapan kita jalan, pelan-pelan, hati-hati dan sejenak berhenti. Jangan jangan biarkan kesibukan itu membuat kita lupa, bahwa ada orang lain yang harus disapa. Ada diri sendiri yang perlu diajak bicara. Ada Tuhan yang setia bersama dan memberkati kita.
Deo gratias.
Rm RP Rio, Scj
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.