Air Mata Buaya

Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK

“Yang membenci dengan bibirnya, tapi dalam hatinya penuh tipu daya. Kalau ia ramah dengan suaranya, jangan percaya kepadanya.”
(Amsal 26: 24-25)

Adalah sebuah peribahasa yang terkesan kejam dan munafik. “Ya, karena air mata tangisannya itu hanyalah pura-pura, ia justru sedang tertawa terbahak-bahak.” Mengapa? Ya, karena tujuannya hanyalah untuk menipu.

  1. Tiga Buah Lapisan Makna: ‘Air Mata Buaya’

a. Makna Pertama: ‘Kepalsuan Emosi’. Latar belakang dari peribahasa ini adalah fenomena biologis (buaya), di saat ia menyantap mangsanya, maka spontan kelenjar air matanya akan ke luar (Dalam konteks ini, aspek emotif dijadikan sebagai alat atau pun sarana).

Di balik fenomena ini ada filosofi untuk kita manusia! Yakni adanya “orang yang menangis di depan umum, agar dikasihani” (Semisal, ada orang yang meminta maaf sambil terisak-isak, tapi keesokan hari, penyakit kronisnya itu justru kambuh lagi). Selain itu, juga ada orang yang berdoa khusuk sambil menangis, tapi hatinya tidak sudi berubah.
Ya, itulah fenomena air mata buaya!

“Orang membenci dengan bibirnya, tapi dalam hatinya penuh tipu daya. Kalau ia ramah dengan suaranya, janganlah percaya kepadanya.”
(Amsal 26: 24-25)

b. Makna Kedua: Duka yang Tidak Jujur’

Aneh bin ajaib, ternyata dalam sandiwara kehidupan ini, jika Anda justru ditangisi oleh orang yang selalu melukai Anda (Dialah yang menikam Anda dari balik punggung).

Di balik fenomena ini, terdapat filosofi, bahwa dunia ini justru penuh dengan genangan air mata buaya:

  • Di ruangan ibadat ia berlutut sambil berurai air mata, tapi itu hanyalah adegan sandiwara, dan sekadar aksi munafik.
  • Di meja perjamuan keluarga, ia bersumpah sambil menangis, tapi keesokan hari adegan sandiwara yang sama dipentaskan lagi.

Tuhan tidak butuh air mata, tapi Ia butuh sekeping hati yang tulus bertobat.

“Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk itu tidak Kau pandang hina, ya, Allah.”
(Mazmur 51: 19)

c. Makna Ketiga, Ujian untuk Kita: ‘Membedakan’

Inilah sebuah permasalahan laten, karena dapat saja, Anda pun saya dapat berperan sebagai ‘buaya’ latah.

Adapun filosofi di balik fenomena ini, bahwa Tuhan menguji: Apakah hal ini sungguh sebagai air mata penyesalan, ataukah air mata ego?

  1. Manakah Air Mata yang Benar?

Adalah logis bukan, jika ada air mata buaya, berarti ada juga air mata yang lain, yakni air mata Merpati!

Inilah Esensi Dasar dari Air Mata Merpati:

a. Air Mata Kejujuran: Ia meratapi dengan penuh sesal di dalam kamarnya. “Air mataku Kau taruh dalam kirbat-Mu.”
(Mazmur 56: 9).

b. Air Mata Memulihkan: Ia sungguh meratap, karena ia sangat sesal lalu bangkit dan tidak mengulanginya lagi.

c. Air Mata Penyembuhan: Di kala Anda meratapi bersama keluarga yang berduka. “Menangislah dengan orang yang menangis.”
(Roma 12: 15).

Bukankah Yesus, Sang Guru Agung kita pun pernah menangis? Itulah ekspresi dari air mata Merpati. (Yohanes 11: 35). Tetesan air mata Merpati yang mampu menghidupkan kembali Lazarus.

Refleksi Penutup

Siapakah Anda? Marilah kita berani mengecek isi hati kita!

a. Janganlah Anda dan saya mau jadi buaya yang suka memanipulasi atau pun mencari panggung.

b. Janganlah juga tertipu oleh buaya, dengan mudah terjebak hanya dengan melihat air mata di pipi (Mat 7: 16).

c. Jadilah Merpati: Ya, merataplah dengan jujur di hadapan Tuhan. Itulah sebuah tangisan yang paling jujur!

Kediri, 22 Agustus 2026