Tanpa Kasih, Semua Aktivitas itu Hambar

Dalam kehidupan keluarga, sering kita menemui hal ini: Ayah bekerja keras demi keluarga, Ibu sibuk mengurus rumah, anak-anak belajar dan berprestasi. Karena kesibukan masing-masing, mereka jarang duduk bersama, mendengarkan satu sama lain, atau berdoa bersama. Semua tampak berfungsi, tapi kasih tidak mengalir. Tugas dijalankan, tapi hati terasa jauh.
Dalam Injill, Yesus menyampaikan hukum yang terutama, “Kasihilah Tuhan Allahmu … dan kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri.” Ia mengingatkan, bahwa tanpa kasih, semua aktivitas, baik dalam keluarga maupun hidup rohani itu akan kosong dan tidak menyelamatkan.
Santo Pius X sangat menekankan, bahwa iman itu bukan hanya soal pengetahuan, melainkan juga soal relasi kasih yang hidup. Ia memperjuangkan agar anak-anak dapat menerima Komuni Kudus lebih awal, karena Ekaristi adalah sumber kasih sejati. Ia berkata, “Ekaristi bukan hadiah bagi yang sempurna, melainkan kekuatan bagi yang lemah.” Dalam keluarga, kasih sejati tumbuh bukan dari kesempurnaan, melainkan dari kesediaan hati saling menerima, mengampuni, dan berjalan bersama dalam Tuhan.
Mari kita kembalikan pusat hidup kita kepada kasih: kepada Tuhan dalam doa dan Sakramen, serta kasih kepada sesama dalam keluarga dan komunitas, dengan sabar dan rendah hati.
“Tuhan, ajarlah kami mencintai bukan hanya dengan kata-kata, melainkan juga dengan hati dan perbuatan. Kuatkanlah kami untuk hidup dalam kasih. Semoga keluarga kami jadi tempat Engkau tinggal dan berkarya. Amin.
Ziarah Batin
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.