Berseru-seru di Padang Gurun

“Berseru-seru di padang gurun, aku mohon belas kasih-Mu, ya, Allah.” -Mas Redjo
Tidak hanya terinspirasi, tapi saya termotivasi dengan pengalaman rohani Yohanes Pembaptis (Yoh 1: 23), dan berusaha meneladaninya dalam hidup keseharian.
“Jalan keheningan adalah orientasi untuk memperoleh hidup sejati.”
Ya, bagi saya pribadi, berseru-seru di padang gurun itu diibaratkan kita berteriak dalam kesia-siaan, karena di gurun tidak ada seorang pun yang mendengar seruan itu.
Begitu pula kesejatian hidup ini. Apa yang harus kita banggakan dan sombongkan? Hidup ini anugerah Allah yang harus disyukuri, dijalani, dan dibagikan kepada sesama agar kita bahagia (berhikmat).
Jika banyak orang bangga dengan yang dimiliki, baik itu prestasi, harta kekayaan, atau jabatan itu adalah hak mereka.
Berbeda, atau bertolak belakang dengan jalan Yohanes Pembaptis dan orang beriman yang melayani Allah dan sesama. Anugerah-Nya itu tidak untuk dipamerkan, tapi disyukuri dan dimaknai.
Jalan keheningan orang beriman, sejatinya adalah hidup pertobatan yang direfleksikan lewat semangat kerendahan hati dan perbuatan nyata. Tidak untuk dipamerkan, tapi sebagai persembahkan hati bagi kemuliaan Allah.
Mas Redjo
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.