Egois itu Menutup Rezeki Sendiri

“Selalu bertanya pada nurani lebih dulu, agar kita tidak disesatkan oleh keegoisan sendiri.” -Mas Redjo

Baik (saya pikir dulu). Terima kasih atas kesempatan dan kepercayaan yang diberikan kepada saya.

Menanggapi dengan rendah hati itu yang saya selalu kedepankan untuk merefleksikan peluang usaha dan tawaran teman agar tidak mudah menolak, mengecewakannya, dan apalagi demi ambisi untuk perkaya diri sendiri.

Kesempatan baik itu tidak datang kedua kali adalah prinsip saya untuk bijak memanfaatkannya.

Saya terinspirasi dengan motivator BS yang memberi ceramah untuk pembekalan PSE (Pengembangan Sosial Ekonomi) agar kita berani mencoba hal-hal baru. Sekaligus untuk mengembangkan potensi diri, karena anugerah Allah luar biasa.

Saya segera menyanggupi tawaran kerabat YB, ketika diminta untuk mengelola rumah dan kebunnya yang luas di kampung. Alasan saya sederhana, sayang, jika rumah itu dibiarkan mangkrak dan rusak.

Berorientasi untuk mengutamakan kemaslahatan itu yang mendasari saya untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan yang adalah peluang baik untuk diwujudkan jadi nyata.

Menanggapi peluang usaha di luar kota itu berarti harus menyiapkan mental untuk berjauhan dengan keluarga. Keuntungan saya adalah sesekali mudik kampung, bertemu dengan keluarga besar tercinta.

Saya selalu menyertakan Allah dalam menanggapi setiap peluang itu dengan mohon berkat-Nya agar tidak egois dan menyalahgunakan kerpercayaan orang agar usaha itu berlimpah berkah.

Disadari dan diakui, atau tidak. Ketika kita menyalahgunakan kepercayaan orang demi ambisi, perkaya diri, dan egois itu bakal menutup rezeki sendiri, bahkan permalukan diri, dan aib!

Sejatinya hidup adalah kesempatan untuk bertumbuh, berkembang, dan menghasilkan banyak buah sebagai pertanggungjawaban kita kepada Allah. Hidup untuk manfaat bagi sesama!

Mas Redjo