Lalat

“Sensasi bikin fitnah menang, tapi kebenaran adalah bukti tak terbantahkan.” -Rio, Scj

Saat menikmati kopi, terbang ke sana kemari seekor lalat. Harum kopi, tidak sedikitpun memikat, yang dipilih malah kotoran cicak. Memang unik lalat itu, setetes madu dibiarkan yang dicari malah sampah. Meski begitu lalat tidak pernah tersesat, ke manapun pergi ujung-ujungnya tetap mencari yang busuk.

Pembenci itu mirip nyamuk, datangnya tidak diundang, bunyinya paling berisik. Kita omong biasa, tapi reaksi orang kok luar biasa. Jangan-jangan yang tersinggung bukan telinganya, tapi prasangkanya. Itulah kita di dunia. Banyak dari kita seperti lalat, yang tidak tergiur pada kebaikan, tapi sibuk mencari yang busuk. Kebusukan sesama itu lebih menarik daripada hal baik. Kita pun mirip nyamuk yang berisik mendatangi dan mengomentari hidup orang.

Jika kita hanya mencari sensasi, fitnah memang menang. Jika yang dicari kebenaran tetap saja bukti yang menentukan. Hidup ini bukan sensasi, melainkan hidup adalah peluang untuk bertumbuh dan berkembang demi kebaikan dan kesucian.

Sensasi itu tidak membuat kenyang, tapi bekerja dengan hati dan tindakan benar itulah yang mendatangkan rezeki dari Tuhan. Sepakat …?!

Deo gratias.

Rm RP Rio, Scj