Allah Melihat Hati

Sebuah studi dari Harvard Business Review tahun 2020 menunjukkan, bahwa salah satu penyebab utama ketidakpuasan kerja adalah perasaan ketidakadilan dalam penghargaan, terutama saat karyawan merasa kontribusinya lebih besar, tapi mendapat kompensasi sama dengan rekan lain. Fenomena ini menunjukkan, betapa manusia secara alami cenderung membandingkan, bahkan dalam hal kebaikan.
Dalam Injil, Yesus mengajak kita masuk dalam logika Kerajaan Allah yang berbeda dari logika dunia. Dalam perumpamaan pekerja di kebun anggur, semua orang menerima upah yang sama, meskipun mulai bekerja pada jam yang berbeda. Reaksi iri hati pun muncul, “Mengapa mereka yang datang terakhir mendapat upah sama seperti kami?” Pemilik kebun anggur menjawab, “Tidakkah aku boleh mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau karena aku murah hati?” (Mat. 20: 15). Di sinilah letak pesan pentingnya: Allah melihat hati, bukan hitungan jam kerja. Kasih dan belas kasih-Nya tidak dibatasi oleh perhitungan manusia.
Paus Benediktus XVI pernah berkata, “Belas kasih adalah inti dari pewartaan Kristus dan identitas Gereja.” Maka, kita pun dipanggil untuk bersyukur atas kemurahan Tuhan, bukan merasa layak lebih dari sesama, karena semua adalah anugerah.
Tuhan yang Murah Hati, ajarilah kami mensyukuri rahmat-Mu, bukan membandingkan diri dengan orang lain. Jauhkan kami dari iri hati dan ajarlah kami melihat kebaikan-Mu dalam segala hal. Jadikan kami pewarta kasih dan belas kasih-Mu. Amin.
Ziarah Batin
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.