Nyaman dalam Pelukan Ibu

Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Jika saudara merasa lemah, carilah pelukan Ibu dan pelukan Tuhan.
(Didaktika Hidup Sadar)
Bukankah suasana ‘duka derita’ itu bagaikan secarik malam yang tidak kunjung pagi? Ketahuilah, pada titik yang paling kritis ini, hendaklah kita rela untuk kembali pada pelukan Ibu.
- Mengapa Pelukan Ibu justru dapat Menyembuhkan di Saat Duka?
Ya, karena lewat pelukan Ibu, terdapat tiga (3) hal yang selalu dicari duka dari kita!
- a. Kekuatan: Sekalipun tangan Ibu kian lemah dan kurus, tapi tangan itu masih mampu membopong kita di saat tubuh kita lemah.
- b. Kenyamanan: Dalam pelukan Ibu tidak ada syarat atau tuntutan. Ia bahkan rela mengelus tubuh lemah kita.
- c. Rumah: Duka menjadikan kita sebagai orang asing di rumah sendiri. Tapi, saat kita dipeluk Ibu, rasanya seolah sudah kembali berada di dalam tubuh asal kita. Ya, bukankah Ibu adalah tanah kita?
- Pelukan Ibu: Gambaran Pelukan Bapa
Nabi Yesaya (66: 13): “Seperti seorang yang dihibur Ibunya, demikian Aku akan menghibur kamu.”
Di saat kita kehabisan kata, Ibu justru akan tekun berdoa untuk kita. Di saat kita kehabisan kata-kata, maka Ibu pun akan berbicara dalam diam.
- Bagi Kita yang sudah tidak bisa Dipeluk Ibu lagi
Mungkin saja Ibu telah tiada. Karena jarak telah memisahkan kita. Jadi, duka kita pun akan kian berlimpah.
Ingatlah…!
- Pelukan Ibu tidak pernah mati. Dia bahkan akan jadi sebuah doa, ataupun berupa sepotong nasihat yang akan terus didengarkan.
- Ada juga pelukan lain: pelukan teman atau tetangga, dan bahkan Tuhan pun sering memeluk kita lewat tangan orang lain.
- Suatu hari kelak, kita pun akan dengan sangat sempurna, ya, itu pelukan di tanah asalmu, walaupun sudah tanpa air mata lagi (Wahyu 21: 4).
Refleksi Penutup
Ingatlah senantiasa akan kehangatan pelukan Ibu, karena di sanalah sepotong hati anak yang tercabik pun sanggup untuk dijahit kembali!
Malang, 18 Agustus 2026
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.