Mengikuti Yesus Sepenuh Hati dan Tanpa Syarat

Seorang miliarder Jepang pernah mengadakan survei kecil pada dirinya sendiri. Ia memiliki segalanya: kekayaan, popularitas, dan akses ke mana pun. Tapi suatu hari ia menulis, “Saya mempunyai segalanya, tapi tetap merasa kosong. Hidup saya tidak bahagia.”
Fakta itu menegaskan Sabda Yesus, “Sungguh sukar orang kaya masuk ke dalam Kerajaan Surga.” Yesus bukan menolak kekayaan. Yang ditolak adalah sikap hati yang terikat padanya. Harta bisa jadi berkat, jika digunakan untuk kasih, tapi bisa jadi penghalang, jika mengikat hati.
Ketika Petrus bertanya, “Kami ini telah meninggalkan semuanya dan mengikuti Engkau. Apakah yang akan kami peroleh?”
Yesus tidak menegur, tapi menjanjikan: “Siapa yang meninggalkan segala sesuatu demi Kerajaan Allah akan menerima seratus kali lipat, dan hidup yang kekal. Paus Fransiskus dalam “Evangelii Gaudium” menulis “Orang Kristen dipanggil bukan hanya untuk menyangkal diri, melainkan juga untuk menyerahkan hidupnya kepada orang lain dalam sukacita.” Maka, memberi dan melepaskan bukanlah kehilangan, melainkan jalan menuju kepenuhan.
Mari bertanya pada diri sendiri: “Apa yang masih mengikat hatiku? Apakah aku sungguh siap mengikuti Yesus dengan sepenuh hati, tanpa syarat dan tanpa hitungan?” Karena pada akhirnya, bukan seberapa banyak yang dimiliki itu menyelamatkan kita, melainkan seberapa besar kita bersedia memberi dan mengikuti Kristus.
Tuhan Yesus, bebaskanlah hatiku dari kelekatan akan harta dan keinginan duniawi. Ajarilah kami untuk memberi dengan sukacita dan mengikuti-Mu tanpa syarat. Jadikan hidup kami jalan menuju Kerajaan-Mu. Amin.
Ziarah Batin
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.