Sepotong Tulisan tak Bermakna

Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Jangan takut jadi sesuatu yang tak bermakna. Takutlah, kalau kita berhenti menulis karena takut tak dimengerti.”
(Suara sang Kebijaksanaan)
Sebuah tulisan paradoks dan filosofis bernadakan “kekosongan, tapi sesungguhnya, justru berlimpah.”
Mari Kita Mengupasnya
- Ada Tiga Makna Filosofis dari Sepotong Tulisan tak Bermakna ini:
- a. Makna pertama: Jeritan manusia sebagai ‘homo viator’ Sering juga Anda menulis tentang sesuatu, tapi tidak berniat untuk menyampaikan sebuah pesan (ya, karena Anda hanya mau ekspresikan kegalauan hidup, atau saat gelisah). Santo Agustinus menyebutnya sebagai ‘Inguietum est cor nostrum.’ Sekadar coretan isi hati saja.
Adapun filosofi di baliknya, bahwa hal itu tidak selalu tak bermakna, karena Anda belum menemukan, siapakah yang nanti akan membacanya (Bukankah kadang-kadang Tuhan pun hanya mau membaca air mata duka Anda, dan bukan pada kata-kata coretan Anda).
- b. Makna kedua: “Kritis kepada Dunia yang selalu Menuntut sebuah Makna”
Ada prinsip di zaman sekarang, bahwa segala sesuatu itu harus bermanfaat, hidup ini harus berguna, konten pun harus viral.
Adapun filosofi di balik itu sebagai sebuah absurditas, seperti kata Albert Camus, bahwa sepotong “tulisan yang tak bermakna” adalah sebentuk perlawanan yang paling jujur.
- c. Makna ketiga: “Ada Ruang Kosong supaya Tuhan Mengisinya”
Sepotong “tulisan tak bermakna” itu tampak kosong, supaya Anda yang membacanya bisa mengisinya dengan ceritamu, dengan doa, atau dengan lukamu.
Adapun filosofinya, bahwa sesuatu yang tak bermakna bagi penulis, bisa jadi sebagai sebuah titian emas bagi pembaca.
- Hukum dari Tulisan tak Bermakna:
- a. Dia seorang manusia yang jujur, maka dia tidak bertopeng, karena bijak.
- b. Dia seorang manusia yang bebas, tidak terikat pada prinsip like, share.
- c. Dia seorang manusia yang mengundang Anda, karena keadaan kosong, maka dia mengundang Anda untuk masuk.
Cermatilah!
Kisah Yesus menunduk dan menulis di tanah dengan jemari-Nya (Yohanes 8: 6). Itulah sebuah tulisan yang tak bermakna, karena bukankah kita pun tak tahu, apa maknanya.
Penutup
Seperti ‘garam’ pun tidak berkata, “Aku mengasihimu,” tapi, nyatanya dia pun terus meleleh.
Sebuah: ‘titian emas’ pun tidak berkata, “Aku ini penting buat kamu,” tapi, nyatanya dia pun terus dipijaki orang.
Demikian pula ‘sepotong tulisan tak bermana,’ dia tidak memaksamu untuk memahaminya, tapi, dia terus menunggu, bukan?
Maka, “janganlah takut jadi sesuatu yang tak bermakna. Tapi, takutlah, jika Anda berhenti menulis, karena takut tak dimengerti!”
Kediri, 17 Agustus 2026
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.