Kemerdekaan:
Hidup Bermartabat dan Berkeadilan

Dalam sebuah wawancara, seorang petugas kebersihan di Jakarta, ditanya apa arti kemerdekaan baginya. Ia menjawab, “Kemerdekaan itu saat saya bisa bekerja jujur tanpa dihina, dan anak saya bisa sekolah tinggi tanpa takut miskin.”
Jawaban sederhana, tapi mengena: kemerdekaan bukan sekadar bebas dari penjajahan, melainkan terutama hidup bermartabat dan berkeadilan.
Yesus menjawab jebakan orang Farisi, “Berikanlah milik kaisar kepada kaisar dan milik Allah kepada Allah.” Ini bukan hanya ajakan membayar pajak, melainkan seruan untuk hidup adil, yaitu menghormati kewajiban warga negara tanpa melupakan tanggung jawab sebagai umat Allah. Di sinilah iman dan kebangsaan bertemu: sebagai warga negara, kita terpanggil untuk membangun bangsa dengan kejujuran, pengorbanan, dan kasih yang tulus.
Cita-cita NKRI bukan sekadar berdiri sebagai negara, melainkan juga jadi bangsa yang adil, makmur, dan bermartabat bagi semua. Uskup Soegijapranata yang Pahlawan Nasional pun pernah berkata, “100% Katolik, 100% Indonesia.” Kalimat ini menegaskan, bahwa iman tidak mengasingkan kita dari tanggung jawab berbangsa, tapi justru menguatkan semangat kita untuk mengabdi demi kebaikan bersama.
Mari kita merenung pada Hari Kemerdekaan ini: “sudahkah kita memberi kepada bangsa ini tenaga, cinta, dan kejujuran seperti yang Allah kehendaki? Kita diajak untuk tidak sekadar merayakan kemerdekaan dengan bendera, tapi dengan karya nyata demi tercapainya Indonesia yang lebih adil, bersatu, dan penuh damai.
“Tuhan, ajarilah kami mencintai bangsa ini seperti Engkau mencintai kami. Jadikan kami warga negara yang jujur, adil, dan berbela rasa. Semoga Indonesia selalu Engkau tuntun menuju cita-cita kemerdekaannya. Amin.”
Ziarah Batin
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.