Menerima Kasih Allah Tanpa Syarat

Seorang relawan pendamping anak jalanan pernah berkata, “Anak-anak ini hanya butuh satu hal: diterima. Ketika mereka merasa dicintai, mereka berubah.” Perkataan tersebut sesuai dengan Sabda Yesus. Saat murid-murid menghalangi anak-anak datang kepada-Nya, Yesus justru membuka tangan-Nya dan berkata, “Biarkanlah anak-anak itu datang kepada-Ku, sebab orang-orang seperti inilah yang memiliki Kerajaan Surga.”
Yesus tidak sedang berbicara soal usia, tapi hati: hati yang polos, terbuka, dan percaya penuh kepada Allah. Anak kecil tidak menghitung untung rugi; mereka memberi dan menerima dengan tulus. Inilah hati yang disukai Tuhan, dan inilah hati yang membuka jalan masuk ke dalam kerajaan-Nya. Yehezkiel bernubuat, bahwa setiap orang bertanggung jawab atas hidupnya. “Berbaliklah dan hiduplah!” Seruan ini mengingatkan, bahwa keselamatan bukan soal keturunan atau status, melainkan keputusan pribadi untuk bertobat dan percaya. Maka, sikap seorang anak yang sederhana, jujur, dan mau dibentuk jadi cermin pertobatan yang sejati.
Mendiang Paus Fransiskus dalam Amoris Laetitia 166 menyatakan, “Anak-anak perlu merasakan, bahwa mereka dikasihi tanpa syarat.” Penerimaan tanpa syarat itu membuka ruang pertumbuhan iman dan pertobatan yang sejati.
Mari belajar dari anak-anak: menerima kasih Allah tanpa syarat dan hidup dalam pertobatan yang tulus. Itulah jalan menuju Kerajaan Surga
“Tuhan Yesus, jadikanlah hati kami seperti hati anak kecil yang tulus dan percaya. Ajarilah kami untuk hidup dalam pertobatan setiap hari. Semoga kami pantas menerima kasih dan kerajaan-Mu. Amin.”
Ziarah Batin
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.