Hidup ini untuk Disyukuri dan Dinikmati

“We think we are OK, eventhough we are not OK.” -Rio, Scj.

Beberapa hari lalu, ketika panen kacang tanah, tampilan luar itu tampak bagus mempesona. Tidak ada kerusakan, tak terlihat ada lubang atau tanda-tanda dimakan ulat. Tapi giliran dibuka, ulat merusak isi kacang tanah di dalamnya.

Begitu pula dengan hidup kita. Kadang tampak semua itu terlihat baik-baik saja. Walaupun sebenarnya, kita sedang tak baik-baik.

“We think we are OK, eventhough we are not OK.”

Semua terlihat biasa dan baik, tapi nyatanya penuh beban, luka, dan derita. Kita bisa tersenyum pada semua, ternyata harus memikul beban luar biasa. Kadang kita mau, biarlah beban ini cukup Tuhan dan kita yang tahu. Terlihat bijak dan bagus. Faktanya, jika hal itu kita pelihara terus hidup akan membusuk.

Kadang beban itu perlu sejenak kita letakkan. Meski beban hidup itu sama, tapi cara pandang melihat, memaknai, dan mengangkat lagi beban itu beda. Tidak semua memang perlu diceritakan, tapi rendah hati untuk berbagi pada sesama itu kadang menyembuhkan. Tidak semua harus tahu; yang jelas sukacita bercerita pada sesama, terlebih bercerita pada Sang Pencipta, bikin hati dan hidup ini jadi lega.

Setiap luka dan derita Tuhan mempunyai rencana. Tidak perlu protes, meski kepala lagi stres. Hidup ini bukan banyak protes, melainkan berproses. Mengeluh itu biasa, yang luar biasa adalah bersyukur dan sabar. Semua itu akan indah pada waktu-Nya. Air mata itu mengungkap berjuta kata, tapi siapa yang menabur dengan mencucurkan air mata akan menuai dengan sukacita. Itulah cara Tuhan membentuk kita agar sempurna, seperti Dia sempurna adanya.

Deo gratias.

Rm RP Rio, Scj