Titian Emas

Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Janganlah takut melangkah di atas emas. Takutlah, jika sampai mati pun Anda tak pernah punya titian.”
(Didaktika Hidup Sadar)
Ketahuilah, bahwa sebuah jembatan yang bermakna pertama-tama bukan karena ia terbuat dari emas, melainkan karena apa yang ada di seberang jembatan itu.”
- Makna Lahiriah: Titian alias Jembatan Kecil.
‘Titian Emas’ adalah sebuah jembatan yang paling berharga dalam hidup dan perjuangan kita. Jembatan itu tidak terbuat dari bahan beton, tapi yang dimaksudkan ialah ‘jembatan keputusan,’ ‘jembatan iman,’ dan ‘jembatan sang waktu.’
- Tiga Makna Filosofis: dari “Titian Emas”
a. Titian Emas: “Jembatan dari Luka menuju Kedewasaan
Bukankah setiap dari kita memiliki satu masa lalu yang menderita? Semisal, saat kita dikhianati sesama, gagal dalam usaha, ditolak sesama, dan juga saat kita sedang miskin papa?
Itulah sebuah jurang menganga yang gelap pekat dan amat dalam. Jika Anda melintasinya dengan penuh kesabaran, kejujuran, tiada dendam, maka lambat laun, luka-luka itu akan ditempa jadi emas murni. Ketahuilah, dari situ, akan lahirlah sebuah titian.
Para Filsuf berpendapat, bahwa “emas itu tidak lahir dari etalase toko, tapi dari bara api nan panas membara. Titian emas itu adalah ‘jembatan keledai’ yang kini sedang kita lintasi.
Ya, biarlah sekarang kita menderita, tapi bijaksanalah kelak!
b. Titian Emas: Jembatan dari Aku ke Kita
Bukankah secara alami manusia itu adalah ciptaan yang paling egois? Nyatanya, bahwa ia selalu ingin segala sesuatu itu dimulai dari dirinya?
c. Titian Emas: Jembatan dari Bumi ke Akhirat
Sang bijaksanawan berkata, “Dalam hidup ini hanya terdapat dua buah tepian: ialah ‘tepian kelahiran dan tepian kematian.’ Di tengah-tengahnya terdapat jurang yang maha dalam, berupa: godaan hidup, harta, dan godaan untuk memiliki sebuah nama besar.
‘Titian Emas’ itu termasuk juga amalan kecil yang selalu dilakukan secara tersembunyi dan diam-diam. Apa itu? Ya, sebuah doa kecil yang dipanjatkan dan bersedekah kepada sesama, misalnya.
Itulah emas yang tidak akan pernah berkarat dan juga tak mampu dicolongi pencuri. Ya, itulah yang kelak akan jadi sebuah jembatan bagi kita.
- Hukum “Titian Emas:” Tiga Hal Penting yang Mutlak Diketahui
a. Emas itu sempit: Titian emas itu tidak bisa dilewati beramai-ramai sambil membawa ego, tapi harus satu-persatu. Kita harus bersikap rendah hati, dan fokus. Titian emas itu pun sering kali sepi.
b. Emas itu Menguji: Setiap kali melangkah di atas emas itu, maka kita akan ditanya, “Benarkah Anda ingin menyeberang?”
c. Emas itu Mahal: Untuk membayarnya, kita harus menggunakan air mata, juga butuh waktu.
Penutup: Pertanyaan untuk Anda
Jika di depanmu terdapat jurang yang lebar menganga, dan di belakangmu terbentang sebuah masa lalu. Tuhan sudah meletakkan satu titian emas di hadapanmu. Mungkin saja berupa sebentuk permintaan maaf, atau sikap mau tetap jujur.
Janganlah Anda takut melangkah di atas emas itu. Tapi takutlah, jika ternyata sampai mati pun Anda tidak pernah punya sebuah titian!
Kediri, 14 Agustus 2026
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.