Kasih itu Tidak Sia-sia, ketika Dipersembahkan kepada Allah

“Allah tidak pernah melupakan perjanjian-Nya. Ia mengundang kita untuk membiarkan kasih setia-Nya mengalahkan kekerasan hati kita.”
Allah yang Maha Rahim, Putra-Mu membawa kami kembali kepada awal mula.
Ketika orang-orang Farisi bertanya kepada Yesus tentang perceraian, mereka sebenarnya sedang mencari alasan untuk menjebak-Nya. Tapi Yesus tidak terjebak dalam perdebatan mereka. Ia membawa mereka kembali kepada hati dan rencana-Mu: Engkau menciptakan kami untuk hidup dalam perjanjian, dalam kasih yang setia, dalam persatuan yang mencerminkan kasih-Mu sendiri.
Perkawinan itu bukan sekadar ikatan manusia. Dalam Sakramen Perkawinan, seorang laki-laki dan seorang perempuan menjadi satu daging, dan kasih mereka yang setia dan rela berkorban jadi tanda kasih perjanjian-Mu di dunia. Kasih itu dipanggil untuk berbuah, bukan hanya melalui anak-anak, tapi juga melalui kesabaran, pengampunan, kesetiaan, dan kasih yang terus diberikan satu sama lain.
Yesus juga berbicara tentang kekerasan hati.
Bapa, aku menyadari, bahwa kekerasan hati itu juga ada dalam diriku. Ia dapat tumbuh dari luka, kekecewaan, kesombongan, ketakutan, kepahitan, atau harapan yang tidak terpenuhi. Kadang aku lebih ingin dibenarkan daripada berdamai, lebih ingin menuntut keadilan daripada memberikan belas kasih, atau lebih ingin melindungi diri daripada mengasihi.
Bapa, kerahiman-Mu jauh lebih besar daripada kekerasan hatiku.
Melalui Nabi Yehezkiel, Engkau berjanji: “Aku akan mengingat perjanjian yang telah Kuadakan dengan engkau.” Ketika umat-Mu tidak setia, Engkau tetap setia. Engkau tidak melupakan perjanjian-Mu.
St. Maximilian Kolbe menunjukkan kepada kami tentang kasih yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada-Mu. Di tengah kegelapan Auschwitz, ia menyerahkan hidupnya demi seorang tahanan lain. Bahkan dalam penderitaan, ia melihat hidupnya sebagai sebuah perutusan.
Bapa, entah Engkau memanggil setiap kami melalui perkawinan atau melalui hidup yang dipersembahkan bagi Kerajaan-Mu, ajarlah kami untuk hidup dalam kasih yang sama: kasih yang memberi diri.
Sembuhkan kekerasan hatiku. Pulihkan luka-lukaku. Jadikan hidupku tanda kecil dari kasih-Mu yang setia. Ketika aku menghadapi penderitaan, ingatkan aku, bahwa kasih yang kupersembahkan kepada-Mu tidak pernah sia-sia.
Yesus, jadikan hati kami penuh kerahiman, setia, dan berani. Biarlah hidup kami jadi saluran kasih-Mu. Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.