Dipanggil untuk jadi Pembawa Damai

Hubungan yang paling sehat itu bukan hubungan tanpa konflik, melainkan hubungan yang mampu mengelola konflik dengan komunikasi terbuka dan empati. Sebagaimana Sabda Yesus, bahwa ketika saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia secara pribadi. Jika tidak mendengar, ajak satu atau dua orang lain sebagai saksi. Jika tetap menolak, barulah dibawa ke komunitas. Tujuannya bukan menghukum, melainkan memulihkan.

Yesus mengajarkan, bahwa kasih sejati tidak membiarkan saudara itu jatuh dalam dosa. Santo Fransiskus dari Sales pernah berkata, “Tegurlah dengan kasih; biarlah cintamu lebih besar daripada teguranmu.”

Dalam komunitas Gereja, sering kita tergoda untuk diam demi ‘damai’, atau membicarakan orang lain di belakang. Padahal kasih sejati itu menuntut keberanian untuk menegur langsung, bukan untuk menjatuhkan, melainkan membangun.

Yesus menjanjikan, bahwa kehadiran-Nya nyata di tengah mereka yang sepakat dan bersatu dalam doa. Pengampunan, rekonsiliasi, dan keterbukaan itu jadi jalan untuk menghadirkan Allah di tengah kita. Kita dipanggil untuk jadi pembawa damai. Bukan dengan menghindari masalah, melainkan dengan menyelesaikannya dalam terang kasih Kristus.

Tuhan Yesus, berilah kami keberanian untuk menegur dengan kasih dan rendah hati. Bimbing kami agar mampu membangun perdamaian dalam setiap relasi. Hadirlah selalu di tengah komunitas kami yang ingin setia pada-Mu. Amin.

Ziarah Batin