Tuhan ingin Kita juga Menerjang Badai Kejahatan

Dua bocah kakak dan adik sedang bermain di tepi laut pada saat ombak besar memecah di pasir dengan bunyi yang keras. Sang Ibu duduk di bawah pohon mengawasi mereka. Ia berpesan pada mereka agar tidak masuk ke laut untuk bermain dengan ombak, karena berbahaya. Mereka bermain di tepi dan harus saling menjaga satu sama lain.

Menurut tradisi dan kepercayaan Yahudi, khususnya sewaktu Yesus hidup, gelombang laut, ombak, dan angin di permukaan laut adalah tanda Setan dan roh jahat sedang mengancam untuk menyerang yang berada di situ. Ancaman ini dialami Rasul Petrus, ketika ingin menemui Yesus dengan berjalan di atas air yang sedang dikuasai penguasa jahat. Yesus menginjak, menerjang air, dan berjalan di atasnya. Ia menuju kepada para Rasul-Nya yang ketakutan dengan ancaman itu.

Pengalaman Petrus dan para Rasul di laut, tapi pengalaman Elia justru di daratan, gunung, dan khususnya di dalam gua batu. Penguasa jahat di sana mengancam dia. Ada tiga simbol berkuasanya Setan dan roh jahat, yaitu angin ribut, gempa bumi dan api. Semuanya mencobai dan hendak menguasai Elia yang imannya sangat kuat. Ia tidak memberikan perhatian kepada godaan jahat itu. Akhirnya ia dapat berjumpa dengan Tuhan yang berada di dalam hembusan angin sepoi, dan ia diberikan perutusannya.

Baik Petrus maupun Elia melewati cobaan yang serius itu untuk dapat bertemu dengan Tuhan. Ketika cobaan dan ancaman itu amat besar dan mengerikan, Tuhan Yesus memberikan kekuatan agar kita dapat mengalahkannya. Jika kita kehilangan iman, keberanian, dan kuasa yang diberikan Tuhan, kita akan jatuh dan binasa. Badai kejahatan mengancam kita, karena penguasa jahat itu mempunyai kehendak yang tidak dapat diduga. Sehingga kita harus tetap waspada dan bertumbuh sehat di dalam iman.

Setan atau penguasa jahat itu mengancam kita, baik pada saat seorang diri seperti Elia maupun bersama saudara atau teman seperti para Rasul Yesus. Ancaman itu dapat menyerang kita pada saat sedang berdoa seperti Elia atau bekerja seperti para Rasul yang berada di dalam perahu. Di dalam situasi dan waktu apa pun ancaman itu datang, perintah Tuhan harus dijalani, yaitu menginjak dan menerjangnya, sehingga kita dapat berjalan bebas dan tenang. Menurut Santo Paulus, kita melakukan hal itu hanya demi kemuliaan Tuhan.

“Ya, Allah, semoga perayaan hari Minggu ini memperkuat iman kami dan makin taat kepada-Mu. Amin.”

(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)