Menjadi Manusia Hantu yang Menghantui

“Mungkin lebih baik jadi hantu benaran, sehingga siapa pun bisa takut pada kita daripada jadi manusia berlagak hantu yang menghantui sesama. Bila itu terjadi, maka betapa menakutkan diri ini di hadapan anak-anak manusia.”
Kita keliru, bahkan salah menilai orang, bila kita kurang atau tidak mengenal dia/mereka yang dinilai, atau penilaian kita pun keliru, bila ada keragu-raguan dan kekurang-percayaan terhadap sesama kita. Inilah yang dialami oleh para murid Yesus yang tidak mengenal Sang Guru, ketika Ia menampakan ke-Ilahi-an-Nya dengan berjalan di atas air. Itu hantu! Teriak para murid, walaupun sudah hidup bersama dengan Yesus, tapi belum mengenal ke-Ilahi-an-Nya secara benar.
Pertanyaan yang muncul adalah, “Bagaimana kita bisa mengenal Tuhan dalam keseharian kita?”
Untuk dicermati dengan bijak:
- 1) Pengalaman Elia di Gunung Horeb, di mana ia tidak menemukan Allah dalam angin besar dan kuat, gempa dan api. Justru Allah dalam tiupan angin sepoi-sepoi basah. Ya Tuhan hadir dalam kelembutan hati dan jiwa yang tenang di hadirat Tuhan;
- 2) Yesus yang menunjukkan kepada para Murid, ketika mereka meninggalkan kehidupan doa, maka mereka akan diombang ambingkan oleh angin dan badai, mereka juga tidak mengenal Tuhan. Justru Tuhan hanya dikenal dalam doa dan hati yang tenang dan percaya penuh kepada Tuhan;
Dengan demikian kita diajarkan untuk merenungkan beberapa hal penting sebagai berikut:
- 1) Tuhan tidak pernah ditemui oleh jiwa yang tidak tenang, marah, cemburu, dan tidak memaafkan. Tuhan hanya ditemukan, ketika hati kita tenang, orang yang berdoa, berdamai dan berada dalam keheningan batin;
- 2) Ketika kita marah, iri hati, dendam, dan tidak suka mengampuni, maka sesungguhnya kita telah jadi hantu dan menghantui sesama kita; Bahkan suami bisa jadi hantu bagi istri, istri terus menghantui suami; orangtua jadi hantu di hadapan anak-anak, anak-anak jadi hantu-hantu kecil bagi orang tua, bahkan yang satu jadi hantu dan menghantui bagi yang lain;
- 3) Mungkin jadi pilihan yang sulit; tapi adalah lebih baik hantu asli di mana kita mengenal hantu itu menakutkan daripada jadi manusia, tapi berlagak sebagai hantu sehingga menghantui sesama kita dengan kata dan perbuatan kita
Jika kita sadar, bahwa kita ini manusia, maka tentunya kita diciptakan oleh Allah dan dijadikan putra-putri-Nya. Maka jadilah manusia yang baik dan benar, bukan jadi manusia yang berwajah hantu dan menghantui sesama kita dalam hidup lewat kata dan perbuatan kita.
Monsignor Inno Ngutra, Pr
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.