Memburu Rindu Damba Pribadi
Mosaik Serpihan Kelana -7
Pemburu Jejak Angin
Simply da Flores

Purnama di Pucuk Menara
Purnama datang di akhir Juli
berjalan gontai berwajah letih
dibakar terik mentari musim kemarau
potret lara derita petani yang galau
di tengah sawah ladang yang gersang layu
Aku hampiri bangku trotoar berdebu
membawa nalar yang getir lesu
Lantaran mendengar aneka kabar pilu
kisah perjuangan para buruh
cerita nasib keluarga dan anak cucu
Dari celah rimbun pepohonan
kulihat kilatan cahaya purnama tersenyum
saat bertengger di puncak menara
Ada jarak yang terus menjauh
antara trotoar jalanan berdebu dan gedung megah menjulang
Padang Sanubari dan Belantara Nurani
Ketika tidak pernah peduli sunyi
Jiwa sanubari itu seperti padang savana
terasa getir gersang membentang
untuk datang berkelana mengembara
Ketika jarang kembali hening menyadari
Hati nurani seperti hutan belantara
yang terasa seram penuh misteri
bahkan diragukan makna manfaatnya
Jarak antara nalar pikiran
lebih dekat untuk selera rasa
dan aneka kebutuhan raga
yang terus menagih untuk mendapat segalanya
Semua bisa memilih bagi dirinya
peduli dan menyadari hati nurani
akui dan merawat jiwa sanubari
Atau mengabaikan dan menganggapnya tak ada
Nalar Pikiran Berjibaku
Aku berpikir maka aku ada
Aku berkreasi maka aku menjadi
Aku bertanya maka aku bermakna arti
Nalarmu berlari tak berhenti
Pikiranku terbang ke sana kemari
Anganku melayang berimajinasi dan bermimpi
pribadiku berjuang jadi apa dan siapa
Nalar pikiran merangkul jiwa raga
menata pribadi ada dan menjadi
Nalar pikiran berkelana mencari
membawa tanya meraih jawaban
dalam pribadi sesama saudara
dalam alam lingkungan jagat raya
dalam jejak sejarah dan ramalan masa depan
dalam pengalaman fakta dan misteri
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.