Memutus Pola Pikir ‘Distorsi Kognitif’

Jika ‘sindrom imposter’ adalah ‘kabut emosi’ yang membuat seseorang merasa kecil dan tidak berdaya, maka berpikir kritis adalah ‘kompas logika’ yang akan menuntun kita kembali pada posisi yang sebenarnya.
Selama ini, ‘sindrom imposter’ kerap menjebak kita dalam cacat logika atau ‘distorsi kognitif’. Kita sering terjebak dalam ‘mind-reading’ – menebak-nebak dan menganggap orang lain selalu menilai kita buruk, atau terperosok dalam ‘catastrophizing’ – kecemasan berlebih, bahwa karier kita akan hancur esok hari.
Melalui berpikir kritis, kita dipaksa untuk berani menantang asumsi-asumsi liar tersebut dengan logika: “Apakah ada bukti konkret, bahwa rekan kerja meremehkan saya? Ataukah ini semua hanyalah proyeksi dari ketakutan saya sendiri?”
Pada akhirnya, ketajaman berpikir kritis inilah yang akan menyelamatkan kita dari kelelahan mental (‘burnout’) akibat mencemaskan hal-hal buruk yang belum tentu terjadi.
Berkah Dalem,
JlithengMiko
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.