Mata dan Telinga yang Berjaga

Seorang pemuda untuk kali ketiganya berpacaran. Ia berpikir, kalau kali ini mesti memberikan hasil positif. Dua kali sebelumnya selalu berakhir dengan kesedihan lantaran banyak ketidak-sesuaian. Ia mengevaluasi diri, bahwa ada sisi negatif dari dirinya yang ikut menyebabkan kegagalan pacaran selama dua kali. Ia membicarakan hal itu dengan kedua orangtuanya. Nasihat kedua orangtuanya begini: keputusan hati kita untuk berkata dan bertindak sangat bergantung pada kemampuan melihat dan mendengar.

Mata dan telinga kita harus senantiasa aktif untuk mendapatkan kenyataan tentang orang lain yang kita kasihi. Ketika melihat, bahwa orang di samping kita sedang sibuk dengan berbagai pekerjaan, atau ketika telinga mendengar, kalau orang itu suaranya sudah tidak berdaya, keputusan hati ini akan menentukan tindakan untuk memperhatikan dia. Pemuda itu mengamini nasihat itu. Ia bertekad agar kesempatan pacaran yang ketiga kali itu berbuah baik dan meningkat jadi hubungan ke jenjang perkawinan.

Pada hari pesta Yesus menampakkan kemuliaan-Nya, Sabda Tuhan mengajarkan kita untuk mengalami kemuliaan dan kebesaran Tuhan melalui mata yang melihat dan telinga yang mendengar.

Kisah-kisah yang menggambarkan penglihatan dan pendengaran fisik yang dialami oleh Nabi Daniel, Rasul Petrus dan kedua rekannya. Mereka melihat penampakan Tuhan dan mendengar suara yang datang langsung dari-Nya. Suatu pengalaman iman yang secara langsung seperti ini sangat didambakan oleh banyak orang. Kita bagaikan terangkat setinggi Gunung Tabor tempat para Rasul menyaksikan penampakan kemuliaan Tuhan.

Saat ini hampir semua pengalaman iman kita ialah kejadian-kejadian tidak langsung, tapi dipertandai secara langsung. Yesus bersabda dan menampakkan kemuliaan-Nya melalui diri Bapa Suci, atau seorang Imam, atau seorang saudara yang berbuat baik dan mengasihi kita. Yesus hadir secara pribadi langsung, tapi diperlambangkan oleh Roti Ekaristi yang selalu kita sembah dan santap. Yesus juga berdiri di mimbar dan bersabda secara langsung, tapi ditandai oleh seorang pewarta. Pengalaman-pengalaman seperti ini sangat bernilai tinggi dan membantu pertumbuhan iman kita. Mata dan telinga kita sangat berperan untuk pertumbuhan iman ini.

Yang jadi masalah ialah, jika kita tidak mendengar dan melihat dengan suatu perhatian yang baik, kita tentu saja akan kehilangan pengalaman akan kemuliaan Tuhan yang hadir di dalam diri sesama, alam lingkungan, dan peristiwa hidup kita.

“Ya, Yesus yang baik, semoga kami selalu ingin melihat dan mendengarkan Dikau dalam setiap situasi hidup kami. Amin.”

(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)