Apresiasi Kasih

Seorang anak laki-laki berumur 6 tahun, M mau diberi makanan atau kue. Tapi ia menolak tegas, ketika diberi uang untuk jajan. Lho…?!
Tidak hanya aneh, tapi langka! Itu kesan pertama saya yang memberi uang jajan kepadanya.
Lebih kaget lagi, ketika mendengar alasan M menolak pemberian uang yang membuat dada saya serasa digodam.
“Karena saya ndak bekerja pada Opa,” alasannya lugu, tapi membuat saya terbelalak. Saya amati M dengan seksama. Ia tersenyum manis, lalu ngeloyor ke dalam. Siapa yang mengajari M?
Saya makin dibuat penasaran oleh perilaku M, cucunya R. Jumat lalu, sepulang mengirim barang saya mampir ke rumah R. Ketika kami asyik ngobrol di halaman, M pulang sekolah. Saya menyapanya, tapi dijawab dengan menggunakan Bahasa Inggris.
Dari R, saya memperoleh kejelasan, sejak sebulan lalu M mengusulkan untuk setiap Jumat ber-Bahasa Inggris di rumah agar berbicaranya jadi lancar.
Semula saya beranggapan, karena tugas dari sekolah. Ternyata tidak. M melakukan hal itu dari kesadaran sendiri. Selain tentu orangtuanya yang memberi contoh hal-hal baik dan positif, serta dari pergaulan M di sekolah.
Ketika M menolak diberi uang oleh kerabat atau orang lain itu didikan dari orangtuanya agar tidak jadi kebiasaan, apalagi anak selalu berharap dari orang lain. Jika ingin memperoleh uang sendiri itu dengan bekerja. Ayahnya mengajari M untuk kreatif membuat cindera mata, misalnya gantungan kunci dari rajutan benang dan dijual dengan harga apresiasi, sesuka orang yang mengapresiasinya. Tujuannya agar M tidak berorientasi mencari uang, tapi dilatih untuk kreatif dan produktif.
Kesadaran dan komitmen M yang patut diapresiasi itu adalah, Selasa dan Kamis, ia tidak bermain (puasa) gadget, tapi waktunya untuk membaca buku-buku. Semangat literasi yang menurun dari Opa dan Ayahnya!
“Dengan membaca, kita membuka jendela dunia, Opa,” jelas M realitis, ketika saya menanyakan hobinya membaca buku.
Apresiasi kasih untukmu, M. Salut!
Mas Redjo
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.