Tuhan Mendengar Teriakan Kita

Seorang teman bercerita tentang mimpinya beberapa waktu lalu. Setan berusaha mencobai dia dan membawanya pergi ke berbagai tempat. Setan menunjukkan kepadanya tempat-tempat yang amat bagus dan menyenangkan. Setan berkata kepadanya, bahwa ia mesti segera memutuskan untuk tinggal bersamanya, dan semua keindahan yang telah dilihatnya itu akan jadi jaminan bagi seluruh hidupnya. Ia pasti hidup bahagia yang tiada batasnya.
Teman itu menolak. Ia memberikan alasan kepada Setan, bahwa Tuhan sudah lebih dulu memilikinya, anggota keluarganya dan teman-temannya. Lebih baik Setan pergi menggodai orang lain, bukan dirinya. Setan marah sekali dan mengancam akan menghancurkan dia. Setan membawa dia persis di tepi jurang dan ia sendiri dapat melihat jauh ke bawah yang tidak ada ujungnya. Ia akan dijatuhkan di situ sebagai hukuman dari Setan.
Ketika jatuh, ia berteriak sekeras-keras dengan menyebut nama Tuhan Yesus. Segera ada Malaikat Tuhan dengan sayapnya yang sangat kokoh, melebih sayapnya Setan, memegang dia lalu membawanya ke sebuah pendaratan, yaitu di rumahnya sendiri. Ia selamat dari kuasa Setan dan ia terbangun dari mimpinya itu. Ia telah berhasil mengalahkan Setan.
Tuhan selalu jadi tujuan pengaduan dan teriakan kita, baik itu berupa ungkapan dari dalam hati maupun dengan suara normal atau lantang. Ada begitu banyak teriakan minta tolong dari dunia ini dan Tuhan mendengar semuanya; memberikan jawaban-Nya. Kita selalu mengadu, memanggil, dan meneriak nama-Nya, atau menangis dan memohon dengan sangat kepada-Nya, yang berarti, bahwa kita sangat bergantung kepada-Nya.
Dalam Injil, kita tahu, bahwa melalui teriakan minta tolong, perempuan yang bukan beriman Yahudi itu mendapatkan pertolongan Yesus Kristus. Imannya kepada Yesus membantu menyembuhkan anaknya dari cengkeraman roh jahat. Sungguh, berteriak minta tolong kepada Tuhan itu penting dan mendesak. Sama urgennya dengan mengadu dan meminta tolong kepada sesama atas suatu kebutuhan yang mendesak. Musibah bencana alam, kebakaran, kecelakaan, sakit, kelaparan merupakan contoh kebutuhan urgen di sekitar kita, di samping banyak masalah lain sejenis. Sebagai anak-anak Tuhan, hendaknya kita tidak menahan diri dan pasif, baik untuk meminta pertolongan, maupun membuka diri untuk memberikan pertolongan. Hendaklah kita tidak menyimpan rapat teriakan kita minta tolong dan membiarkan saja teriakan sesama kita hanya seperti angin lalu.
“Tuhan Allah yang Maha Murah, penuhilah hati dan pikiran kami dengan rahmat kemurahan-Mu sehingga kami dapat memberikan perhatian sesuai dengan kebutuhan srsama yang mengalami kesulitan. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.