Janji

“Tepati, sebelum penyesalan datang.” -Rio, Scj.

Aristoteles bilang, kebahagiaan itu ada pada diri, bukan pada orang lain. Orang yang paling menderita adalah orang yang menggantungkan kebahagiaan pada orang lain. Jika sukses jangan terlalu senang. Jika terpuruk tidak perlu sedih. Yang jaya akan memudar, yang di bawah akan naik ke atas, yang sehat akan sakit, yang kuat akan rapuh, dan yang muda akan jadi tua. Di dunia ini tidak ada yang abadi dan sempurna.

Alkisah seorang pengusaha dalam perjalanan pulang kerja. Ia melihat seorang pengemis tua duduk kedinginan. Karena belas kasihan ia pun menyapa dan bertanya, “Pak udara begitu dingin, kok enggak pakai jaket”? Pengemis tua itu menjawab “Saya enggak punya jaket, tapi enggak apa-apa saya sudah terbiasa dengan udara dingin.” Karena kasihan pengusaha itu berkata, “Tunggu bentar, ya, saya bawakan jaket untuk Bapak.” Pengemis tua itu amat bahagia dan berharap sekali.

Pengusaha itu lalu masuk rumah. Awalnya mau mengambil jaket, tapi saking sibuknya sampai ia lupa pada janji memberi jaket pada pengemis tua. Ia baru teringat esok paginya. Segera ia mencari pengemis tua itu, ternyata pengemis tua itu sudah membujur kaku dengan sebuah tulisan di tangannya. “Ketika aku tidak punya jaket, aku punya kekuatan untuk melawan rasa dingin, karena biasa. Tapi, ketika kamu berjanji untuk memberikan jaket kepadaku, aku bahagia dan terikat pada janji, serta harapan itu. Itulah yang mengurangi kekuatanku untuk melawan hawa dingin ini.”

Kadang kita begitu berharap, seolah bahagia ada di depan mata, nyatanya jauh. Janji kecil yang tidak berarti untuk kita, kadang mimpi bahagia besar bagi orang lain. Janji kecil itu kadang bisa jadi, adalah segalanya bagi sesama.

Kisah tragis itu jadi pengingat kita, besar atau kecil janji kita, tepatilah sebelum yang datang adalah penyesalan.

Deo gratias.

Rm RP Rio, Scj