Ibarat Pedang Bermata Dua

Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK

“Hati-hati pegang pedang hidupmu. Dia itu tajam pada dua sisinya. Dia bisa menobatkanmu jadi Raja, tapi juga bisa melukaimu. Tapi, jika dipegang dengan iman, maka pedang itu akan jadi alat untuk memotong rantai dan bukan sebagai penebas batang lehermu.”
(Didaktika Hidup Sadar)

“Disegani, itulah tampilan dari sebilah pedang. Dia itu juga indah. Ya, tapi itulah karakter dasar dari sebilah pedang. Harap hati-hati, jika Anda salah memegangnya, maka, Anda pun akan berlumuran darah.”

Bukankah dalam hidup ini, justru berisi ribuan mata pedang terhunus di sekelilingmu? Ya, sadarilah akan kenyataan mengerikan itu!

  1. Mata Pedang Pertama: Berisi Kekuatan

Bukankah sebilah pedang itu simbol sebuah kekuatan dasyat? Dia pun telah jadi sayap-sayap dan perisai hidup Anda?

Jika Anda memamerkan atas nama ‘keangkuhan’, ia akan berbalik jadi ‘bumerang’ bagimu. Mengapa? Ya, karena bukankah ‘pintar’ itu adalah sebilah pedang? Bahkan ‘pengaruh’ pun adalah juga sebilah pedang? Jika kian ‘tajam,’ maka akan kian besar pula tanggung jawabnya?

Ingatlah dan simpan rapat-rapat dalam sanubari ini, bahwa sebilah pedang tak pernah akan bersikap ‘netral.’ Dia, bahkan selalu siap dan sigap untuk memilih: ‘menebas ataukah membela.’

  1. Mata Pedang Kedua: Tuturan atau Kata-kata

Ya, kata-kata adalah pembunuh berdarah dingin. Ia tidak berdarah, tapi bisa membuat orang mati konyol.

Sebuah kalimat sakti nan halus lembut, bahkan mampu menyembuhkan depresi. Sebuah kata pedas pun sanggup membuat orang bisa lompat bebas dari menara pencakar langit.

Nah, itulah buah tuturan si arif bijak, “Sebelum bicara, tanya dulu ke pedangmu. Apakah ia mau dipakai untuk membedah atau membunuh? Juga ingat pesan Kakek, “Mulutmu adalah harimaumu.”

  1. Mata Pedang Ketiga: Waktu dan Pilihan

Inilah si mata pedang yang paling licik.

Untuk Mata pertama, “Jika Anda memilih A, maka aku pun akan dapat ini.”

Mata kedua: “Tapi, aku akan kehilangan itu.” Sebetulnya, tidak ada pilihan yang semuanya enak, lezat, dan nikmat. Bukankah Anda masih ingat karakter dasyat mata pedang?
(1) Jika Anda ingin sukses? Tegaskan waktu tidurmu.
(2) Jika Anda mau dekat dengan keluarga, maka tegaskan ambisimu. Karena bukankah ‘spiritualitas itu belajar pegang gagang pedangnya dan bukan si mata pedangnya.

Lalu bagaimanakah cara untuk memegang pedang bermata dua agar Anda tidak terluka?

Nah, inilah caranya!

Pertama: kenalilah tanganmu sendiri. Berapa besarnya tingkat kesabaranmu? Jika Anda sungguh sadar, bahwa Anda belum sanggup untuk mengangkat pedang, maka janganlah Anda sok untuk memegangnya.

Kedua: Ingatlah pada niat hatimu. Jika pedang berada di tangan orang yang sedang marah, maka itu bermaknakan pembantaian.

Ketiga: Rela untuk Diasah
Ingatlah, () jika pedangmu itu tumpul, maka ia tidak bisa memotong. Nah, demikian pun kita manusia. () Jika diasah, tentu ada rasa sakit, itulah saat Anda ‘sedang dikritik, merasa gagal, saat ditolak, atau pun kala kehilangan sesuatu. Jika tanpa diasah, maka Anda pun hanyalah ibarat sepotong besi karat.

Penutup

“Pedang bermata dua itu telah mengajarkan Anda tentang bagaimana pentingnya sebuah tanggung jawab.”

Bukankah di saat kita dilahirkan!
Namanya: kehidupan, akal budi, hati nurani, dan mulut. Maka, gunakanlah hidup Anda dengan baik, semisal menebang sebatang pohon yang merintangi jalan, agar orang lain pun dapat melewati sebuah jalan.

Kediri, 5 Agustus 2026