Meraih Energi Kata Puisi.

Mosaik Serpihan Kelana -4
Pemburu Jejak Angin
Simply da Flores



Ketika kata-kata kepakkan sayap
sekat ruang waktu sirna dilahap
Api tanya membara dibawa angin
membakar hasrat rindu damba
Yang gersang di padang dahaga
Yang kering terkulai di belantara nestapa
Kata jadi sosok wajah tanya
Kata meleburkan harkat jiwa raga
Kata merangkul ada dan tiada
Karena segalanya ada dan terjadi dalam kata


Ketika kata-kata jadi cahaya
lalu membias bersinar melerai galau
Ada rasa yang jadi mata air
alirkan butiran nestapa dan pesona
Berarak menyusuri sungai pertanyaan
Pertemukan hakikat pribadi di muara dengan samudra
Entahโ€ฆ
bisa jadi arti dan makna bersemi
Entahโ€ฆ
hanya jadi lumpur dan pasir sepi


Ketika kata jadi suara menyapa
Ada energi bergelora dalam nalar
tentang apa dan siapa di sana
tentang mengapa dan bagaimana realita
tentang aku dan engkau jadi kita
Entahโ€ฆ
dalam kisah cerita kelana
Entahโ€ฆ
dalam ayat syair rindu damba
Entahโ€ฆ
dalam ragam puisi cinta mempesona
Entah..
dalam syair sajak asmara menggelora


Ketika kata memberi arti dan makna
Aku menemukan sosok wajah dalam engkau
Engkau meraih harkat diri dalam aku
Kita jadi kata dalam aneka sosok dan makna
Kita menulis kisah cerita dalam kelana
Kita mewarnai suka duka dengan kata
Kita diam hening berjumpa tanpa kata
karena kata tak sanggup merangkul jiwa raga
karena pelangi menulis puisi perjumpaan kita


Kata menjelma dalam ayat puisi
bait syair pengalaman bersemi terpatri
pada jemari dan telapak karya tangan
pada jejak langkah kembara kaki
pada cita dan cita membara
pada goresan aneka kisah cerita
Karena energi kata indah mempesona
dari aku dan engkau jadi kita
Karena kreasi irama dan dinamika
melukis arti dan makna rindu damba
Karena cemerlang seribu mata puisi
melihat fakta tidak seperti biasanya
dan bisa menyibak misteri dalam gulita tanya