Menjaga Kebersihan Hati

Ada rumah yang dari luar tampak megah, tapi begitu masuk ke dalam tampak berantakan, kotor, dan kotor. Ada orang yang dari luar tampak anggun dan sopan, tapi ternyata penipu. Wajar, jika muncul idiom “Don’t judge a book by its cover!” Kita sering kali terfokus pada penampilan luar, tapi lupa ke hal yang jauh lebih penting.
Para ahli Taurat dan orang Farisi menemui Yesus untuk mengkritik para murid yang tidak mencuci tangan sebelum makan. Bagi mereka, tidak mencuci tangan adalah pelanggaran serius. Seolah-olah aturan itu inti dari kekudusan. Padahal, hanya sebatas tradisi. Mereka terpaku pada ritual lahiriah, sehingga mengabaikan esensi. Menanggapi itu Yesus bersabda, “… bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang ke luar dari mulut.”
Segala sesuatu yang ke luar dari mulut berasal dari hati. Hal ini sesuai dengan kehendak Allah yang disampaikan Yeremia untuk memulihkan kemurnian hati. Allah ingin menyembuhkan luka-luka hati kita yang disebabkan oleh dosa agar hati kita bisa kembali bersih dan jadi tempat kediaman-Nya. Begitu hati kita dibersihkan oleh kasih karunia-Nya, maka yang ke luar dari mulut kita adalah berkat, pengampunan, dan kebaikan.
Sudahkah kita menjaga kebersihan hati?
Bagi Tuhan, yang terpenting itu bukan seberapa banyak aturan yang kita patuhi, melainkan seberapa murni hati kita di hadapan-Nya.
“Ya, Tuhan Yesus, sucikanlah hati kami dari segala kejahatan dan kemunafikan. Sembuhkanlah luka-luka batin kami agar dapat hidup dalam kebenaran-Mu. Semoga perkataan yang ke luar dari mulut kami selalu memuliakan nama-Mu. Amin.”
Ziarah Batin
(adiutami.com / ziarahbatinkatolik.blogspot.com / Buku Ziarah Batin)
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.