Filosofi Gedung

“Bijaklah memberi respons, bukan cepat bereaksi.” -Rio, Scj.
Belum lama ini saya membaca sebuah buku filsafat. Buku itu bicara soal filosofi gedung. Menarik untuk diterapkan dalam hidup. Kita itu sering sibuk, bukan sibuk mengurusi hidup diri sendiri, tapi sering sibuk mengurusi hidup orang lain. Yang baik dikagum dan ingin sekali seperti mereka, bahkan mengidolakan mereka. Sebaliknya yang buruk, penilaian, komentar, nyinyiran, bahkan omongan orang, bikin perasaan emosi, kepala mau pecah, dan akhirnya yang ada marah-marah. Marah pada diri ini, keadaan, orang terdekat, dan bahkan marah pada Tuhan.
Bila hal itu yang dialami saat ini, ingatlah filosofi gedung. Saat kita berada di lantai 1 dan ada seseorang yang menghina, merendahkan, emosi kita pasti langsung terpancing. Kita spontan reaksi. Coba deh bila kita di lantai 10, hinaan, teriakan, kemarahan, hujatan, tidak lagi jelas terdengar. Malah kita mengira itu sebuah sapaan ramah.
Apalagi saat kita berada di lantai 50, bisa dibayangkan, bukan hanya tidak dengar, memperhatikan juga nggak. Perhatian kita tertuju pada pemandangan indah dan sukacita dalam ketenangan. Mensyukuri banyak pencapaian dengan sukacita.
Sejenak lihat diri kita, jika kita masih mudah marah, tersinggung, baperan oleh hinaan, komentar, penilaian dan omongan orang itu tanda kita masih berada pada level yang sama dengan mereka. Kuncinya adalah, kota fokus naik level, terus naik level. Akhirnya bukan reaksi yang kita kedepankan, tapi respons bijak yang mengubah cara pandang, dan yang akan menciptakan indahnya kehidupan.
Deo gratias.
Rm RP Rio, Scj
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.