Aku, Kau dan Kelana Kita

Mosaik Serpihan Kelana -3
Pemburu Jejak Angin
Simply da Flores


Aku telah coba menulis ayat sajak
pada halaman perjumpaan yang ajaib
antara aku, kau dan ruang waktu
Entah…
apakah engkau pernah membacanya
Karena tulisan tidak selalu menggoda mata
Karena kata-kata tak mampu menawan pikiran
Karena kata tak bisa penjarakan ruang dan waktu
meskipun kita adalah kata-kata bernyawa
Walaupun kita berasal dari Sang Maha Kata


Aku sudah menoreh garis dan warna
pada kanvas pertemuan tanya
antara sosok rindu dan wajah damba
yang mengubah aku dan engkau jadi kita
Entah…
apakah engkau telah melihatnya
Karena lukisan tidak selalu mempesona rasa
Karena warna dan rupa tak mampu memaksa nurani sanubari
Karena goresan lukisan hanya tawarkan diri
pada roda fakta kelana pribadi


Aku tak tahu nama tulisan itu
Entah kisah cerita perjumpaan
Entah puisi dan sajak pertemuan
entah goresan dan lukisan kerinduan
Entah apa pun nama dan bentuknya
Karena
semua sudah ada dan terjadi dialami
Entah apakah ada maknanya dan arti
Hanya engkau yang tahu desah nafas dan detak jantungmu
untuk membuat pilihan dan keputusan bagi dirimu


Aku menulis kata
Aku menggores garis dan warna
Engkau merangkai kisah cerita
Engkau merajut rindu damba
Kita melukis nada dan melodi
pada irama fakta dengan tanya
pada alunan misteri dengan damba
pada irama terang dan gulita hari
Entah…
adakah arti yang mempesona angin nafas
adakah makna yang memikat desir darah
Karena misteri yang merangkul jiwa raga
dengan tanya tak bertepi bagi pribadi