Laksana Katak di Bawah Tempurung

Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Janganlah puas dengan langitmu yang selebar tempurung. Beranilah merangkak ke luar, meskipun kakimu gemetar. Karena di luar sana, menunggumu bukan kehampaan, melainkan pelukan lelangit yang tidak bertepi.”
(Didaktika Hidup Sadar)
Inilah sebuah metafora klasik yang mendeskripsikan hal “keterbatasan perspektif dan zona nyaman yang terbelenggu.”
Dalam ranah spiritualitas, hal ini tidak sekadar tentang ‘ketidaktahuan’, melainkan tentang ‘kebutaan rohani’ yang dialami, karena terlampau sibuk dengan dunia kecil (mikro) kita sendiri.
Draf Refleksi tentang “Laksana Katak di Bawah Tempurung”
Refleksi: Laksana Katak di Bawah Tempurung
- Ilusi Keamanan Bagi ‘Katak di Bawah Tempurung’, langit hanyalah sebulatan kecil di atas ubun-ubun kepala. Ia justru merasa aman, nyaman, terlindungi, dan berkecukupan. Ia pun tidak tahu, bahwa di luar sana ada samudra biru yang luas, gunung yang menjulang ke angkasa, dan gemerlapan gemintang yang tidak terhingga.
- Filosofi: ‘tempurung’ kita adalah ego, prasangka, atau kenyamanan semu materi. Kita merasa sudah memiliki segalanya. Bahkan kita merasa sudah memiliki ‘seluruh kebenaran’ hanya, karena kita puas dengan sepotongan kecil pengalaman kita.
- Ketakutan / Phobi akan Keluasan
Mengapa kita suka sembunyi dan tidak sudi ke luar? Karena di luar tempurung, kita harus menghadapi ketidakpastian.
- Spiritualitas: Kita pun menolak panggilan Ilahi untuk melangkah lebih jauh, karena takut kehilangan kendali. Kita malah kian sibuk dan erat merangkul langit kecil kita sendiri daripada mengarungi “samudra kasih Tuhan.”
- Pecahnya Tempurung oleh Kasih
Tahukah kita, bahwa sering Tuhan mengirim badai hidup agar dapat menghancurkan tempurung di atas kepala baru kita?
- Panggilan untuk Melihat lebih Jauh
Iman yang sejati, ialah keberanian untuk merangkak ke luar dari zona nyaman. Ia adalah kerendahan hati yang mengakui: Apa yang aku ketahui hanyalah setetes air. Engkau Tuhan, adalah Sang Samudra itu.
Teks Pendukung
“Sebab sekarang kita hanya melihat seperti cermin yang kusam, tapi nanti kita akan melihat muka dengan muka.” (1 Korintus 13: 12).
Konklusi (Echo)
“Janganlah puas dengan langitmu yang selebar tempurung. Beranilah merangkak ke luar, meski kakimu gemetar. Karena di luar sana, menunggumu bukan kehampaan, melainkan pelukan lelangit yang tak bertemu.”
Kediri, 1 Agustus 2026
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.