Menyalakan Kembali:
Api Spiritualitas Cinta

Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Janganlah takut pada abunya. Di sanalah bara api terpanas dari cintamu kepada-Nya. Tiuplah perlahan dalam nafas doa dan biarkan Ia mengubah kembali jadi cahaya yang tak kunjung padam.”
(Didaktika Hidup Sejati)
Dasar-dasar dan Esensi Permenungan!
- Api ini, ternyata pernah ada dan bernyala terang.
- Kini, api itu pun kian meredup.
- Juga bahan bakarnya ternyata masih tersimpan.
- Mari, kita nyalakan kembali api itu!
Refleksi: Mari Menyalakan Kembali Api Spiritualitas Cinta.
- Realitas Bara Api Meredup
Sering kali spiritualitas itu ternyata tidaklah benar-benar mati, ia hanya meredup. Bahkan ia terkubur di bawah tindihan debu abu kekecewaan hidup, rutinitas harian, kelelahan emosional, atau kekecewaan di masa lalu. Dampak tragisnya, bahwa kita merasa dingin dan kaku, bahkan Tuhan pun terasa kian menjauh. Hal itu dapat terjadi, karena kita lupa cara ‘mengipasi’ bara api kasih yang masih tersisa di dalam rongga dada sadar kita.
- Oksigen dari Keheningan
Tentu, api itu membutuhkan ‘oksigen’ agar dapat bernyala. Dalam ranah spiritualitas, oksigen itu adalah suatu ‘keheningan’.
Di dalam kancah dunia yang kian bising dan jarang memberi ruang bagi Tuhan untuk ‘bernafas’ di dalam jiwa ini. Untuk menyalakan kembali bara api cinta itu justru dimulai dengan sikap berani mematikan sejenak suara bising dunia kita dan mengizinkan Roh Kudus mengipas-ngipasi hati kita yang lelah.
- Bahan Bakar Pengampunan
Apa yang dapat memadamkan api cinta? Yaitu “dendam dan luka lama” di dada batin kita.
Untuk menyalakan kembali apinya, kita harus rela untuk membuang “bahan bakar basah” berupa kepahitan hidup. Ayo, gantikannya dengan “pengampunan.”
Di saat kita melepaskan beban sakit hati, maka hati kita siap untuk dibakar lagi oleh api kasih Ilahi.
Ingatlah! Bahwa “Cinta sejati itu justru selalu akan diawali dari sekeping hati yang telah dimaafkan.”
- Nyala dan Bara yang Memudar
Api spiritualitas itu bukan untuk dipamerkan, melainkan justru untuk menghangatkan. Ketika api di dada ini kembali bernyala, maka kita kembali jadi pribadi selaku sumber kehangatan bagi orang-orang di sekitar. Spiritualitas cinta yang hidup justru tidak pernah egois; tapi akan selalu mencari ranting-ranting kering lain untuk turut dinyalakan.
Teks Pendukung!
“Janganlah kamu padamkan Roh!
Ubahlah segala sesuatu dan peganglah yang baik.”
(1 Tesalonika 5: 19,21)
Kediri, 31 Juli 2026
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.