Menerima Karya Tuhan

Kita telah mendengar, bahwa Yesus kembali ke kampung halaman-Nya dan mengajar di Sinagoga. Dia membuat banyak orang takjub akan hikmat dan kuasa-Nya. Tapi keheranan itu segera berubah jadi keraguan dan penolakan. Mereka terpaku pada latar belakang Yesus yang dikenal sebagai anak tukang kayu, dan meragukan otoritas-Nya. Akibatnya, Yesus tidak dapat melakukan banyak mukjizat, karena ketidakpercayaan mereka.

Kisah ini mengingatkan kita, bahwa terkadang orang-orang terdekat kita justru jadi penghalang bagi kita untuk melihat dan menerima karya Allah. Prasangka dan keterbatasan pandangan manusia dapat membutakan hati terhadap kebenaran dan kuasa Ilahi. Santo Ignasius dari Loyola, yang dahulunya adalah seorang prajurit dengan ambisi duniawi, mengalami transformasi radikal, setelah mengalami luka dan membaca kehidupan Kristus dan orang-orang kudus. Ia belajar untuk melihat melampaui keterbatasan dunia dan mengarahkan seluruh hidupnya untuk kemuliaan Allah.

Teladan Santo Ignasius mengajarkan kepada kita tentang pentingnya memiliki iman yang mendalam dan pandangan yang luas, melampaui prasangka dan keterbatasan pemikiran manusia. Seperti penduduk kampung halaman Yesus yang kehilangan kesempatan untuk menyaksikan lebih banyak mukjizat, karena ketidakpercayaan mereka. Kita pun bisa kehilangan berkat Tuhan, jika hati kita tertutup.

Peringatan Santo Ignasius dari Loyola ini mengajak kita untuk membuka hati dan pikiran kita, memohon rahmat iman yang teguh, sehingga kita dapat mengenali dan menerima karya Allah dalam hidup kita dan dalam diri sesama, tanpa terhalang oleh pandangan duniawi yang sempit.

“Ya, Tuhan, berikanlah kami iman yang teguh dan hati yang terbuka seperti Santo Ignasius, agar kami mampu melihat karya-Mu melampaui keterbatasan pandangan kami. Amin.”

Ziarah Batin