Yang Penting itu Cuan

“Apa pun pekerjaan dan profesinya, jika orientasinya sekadar mencari cuan, dijamin bakal bo cuan!” -Mas Redjo

Fakta di atas itu suatu bukti nyata, apalagi, jika bidang pekerjaan dan jasa pelayanan kita orientasinya demi ‘cuan’ (untung) semata, dan tanpa hati.

Coba lihat fakta itu di sekitaran kita.

Kita tentu pernah mengalaminya. Kita digetok harga, ketika hendak membayar makanan di rumah makan atau tempat wisata. Kita gengsi bertanya harga dan lupa pameo: teliti sebelum membeli. Karena malu bertanya, ngedumel di belakang.

Ketika orientasi berjuta orang yang berwirausaha dan bekerja itu hanya mendahulukan demi cuan semata. Mereka ingin pekerjaan yang ringan, mudah, dan instan. Tapi memperoleh gaji atau untung yang besar.

Banyak orang juga bekerja sesuai SOP. Tujuannya menjaga kualitas hasil kerja dan meminimalkan kesalahan operasional, tapi minus hati. Kesannya jadi kaku, monoton, memasung kreativitas, dan sulit berkembang

Berwirausaha dan bekerja sesuai SOP serta demi mencari cuan itu tidak salah. Tapi “ngunu yo, ngunu, nanging ojo ngunu.”

Banyak di antara kita yang orientasi kerja itu sekadar mencari cuan, mengakali, dan menipu pelanggan. Penginnya untung besar, tapi jadi bo cuan (boncos), dan buntung (rugi). Karena pelanggan itu jadi kapok, lalu putus hubungan.

Jika orang lain berbuat salah, atau menipu misalnya. Tidak seharusnya kita membalas, ikut melakukan hal buruk, dan merugikan orang lain.

Jujur dan bekerja dengan hati itu resep cespleng untuk mengikat pelanggan agar tidak pindah ke lain hati. Mencari untung itu hal mudah. Tapi mempertahankan hubungan agar awet itu dibutuhkan semangat rendah hati.

Resepnya adalah kita berusaha hadir, karena peduli dan berbela rasa untuk mendampingi pelanggan yang sedang mengalami kesulitan atau masalah. Kita tidak merasa dibebani, tapi sebagai kewajiban moral untuk membantunya.

Sejatinya hidup kita untuk memberi solusi bagi sesama agar berwarna dan bermakna!

Berkah Dalem,
Mas Redjo