Refleksi Spiritual dan Filosofis:
Tentang Sang Asketis Sejati

Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK

“Asketisme adalah seni mengikis segala sesuatu yang bukan dirimu, sehingga yang tersisa hanyalah dirimu yang sejati di hadapan Tuhan”
(Suara Sang Kebenaran)

“Asketisme,” itu sering disalahpahami sebagai “penyangkalan diri” (menyiksa tubuh dan menjauhi kehidupan). Asketis, berasal dari kata ‘askesis’ (Yunani), yang berarti ‘latihan’ atau ‘disiplin’ suatu (kebebasan melalui penguasaan diri).

Tulisan ini saya turunkan sebagai tanggapan atas sebuah tulisan di kolom pembaca harian Kompas, Selasa, (28/7/2026), berjudul, “Romo Mangun, Asketis Intelektual” oleh Eduard Lukman, Pejaten Barat, Pasar Minggu, Jakarta.

Refleksi: Sang Asketis Sejati – Seni Menjadi Bebas

  1. Redefinisi: Bukan Penderitaan, Melainkan Pembebasan

Spirit Asketis itu berpusat pada ‘latihan’ atau ‘disiplin’ diri (biasanya bagi para atlit).

  • Filosofi: Asketis tidak membenci kenikmatan dunia, tapi ia tidak rela diperbudak olehnya. Karena hidupnya dilandasi oleh kesadaran disiplin untuk pengendalian diri (dorongan-dorongan dasar: makan, minum, hiburan, pujian), tapi ia lebih fokus pada hal-hal yang lebih tinggi (kebenaran, kasih, dan Tuhan). Itulah jalan menuju otonomi rohani.
  1. Tiga Pilar Sang Asketis Sejati

a. Kesederhanaan Radikal (Radical Simplicity): Ia justru tidak sibuk untuk memperbudak dirinya dengan mengumpulkan harta dunia. Lewat hidup berugahari, ia lebih fokus membersihkan ruang batinnya dengan mendengarkan suara hatinya. (“Aku rela memilih sedikit, agar aku bisa jadi banyak bagi sesama).

b. Keheningan yang Berbunyi (Resonant Silence):

  • Baginya ‘diam’ itu bukan berarti tidak bicara, melainkan bermakna aktif mendengarkan.
  • Ia hening di tengah lautan suara bising dunia yang mohon perhatian, kemarahan, dan pertentangan.

c. Kematian terhadap Ego (Death to Self):

  • Hal ini memang sulit untuk diterapkan dalam hidup, karena sang asketis wajib menyangkal diri. Bukan untuk menghukum tubuh, melainkan demi meruntuhkan si ego.
  • Ia tidak butuh basa-basi atau pun pujian selangit via medsos. Ia bahkan tidak acuh untuk perlombaan yang hanya menguras energi jiwa. Ia bahkan hanya ingin dekat dan menyenangkan Tuhan.
  1. Paradoks Sang Asketis: Miskin Harta, Kaya Jiwa

Secara filosofis, Asketis mengajarkan sikap paradoks kebahagiaan:
“Kita merasa kurang bukan karena kita memilih sedikit, melainkan karena kita menginginkan lebih daripada yang kita butuhkan.

Lewat cara mengurangi keinginan, Asketis justru menemukan pemenuhan. Ibaratnya sebuah cangkir kosong, sehingga ia bisa diisi oleh air hidup. Ingatlah! Orang yang penuh dengan dirinya sendiri (ego, ambisi, cemas), tidak mempunyai ruang hidup untuk menerima anugerah.

  1. Relevansi di Zaman Medsos

Kini kita tidak lagi seperti Santo Antonius yang dipanggil untuk hidup di gurun, tapi kini kita dipanggil untuk menjadi ‘Asketis Urban’: Yang Bagaimanakah dalam praktik hidup? Semisal, … dengan,

  • Puasa Digital: Sanggupkah kini kita berpuasa digital?
  • Puasa Konsumsi: Mampukah kini kita mengendalikan diri?
  • Puasa Opini: Sanggupkah kita mengendalikan mulut liar kita ini?
  1. Konklusi: Menuju Keutuhan (Integritas)

Asketis Sejati itu bukanlah manusia yang kaku dan dingin, melainkan ia justru telah membebaskan diri dari belenggu hawa nafsu. Ia telah jadi sosok pribadi yang paling utuh, lembut, dan mampu mencintai.

Renungkan!

“Segala sesuatu dapat kuatasi, tapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu dapat kuatasi, tapi janganlah aku diperhambakan olehnya”
(1 Korintus 6:12)

Kediri, 29 Juli 2026